BPS Sebut e-Commerce Ogah Kasih Data Karena Incaran Pajak

Agustiyanti, CNN Indonesia | Rabu, 12/09/2018 17:01 WIB
BPS Sebut e-Commerce Ogah Kasih Data Karena Incaran Pajak BPS mengaku hingga kini baru mengantongi data dari 16 perusahaan e-commerce berskala besar. (CNN Indonesia/Galih Gumelar).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mengaku masih kesulitan mengumpulkan data dari pelaku e-commerce. Hingga kini, pihaknya baru mengantongi data dari 16 perusahaan e-commerce berskala besar.

Kepala BPS Suhariyanto mengaku pihaknya hingga kini kewalahan mengumpulkan data dari seluruh e-commerce, terutama pelaku usaha informal yang rata-rata masih menggunakan platform instagram untuk berdagang.

"Kami berupaya merangkul lebih banyak e-commerce. Mungkin ketakutan mereka juga pada pajak, padahal bukan wewenang kami. Ini menjadi tantangan bagaimana mereka percaya kepada BPS," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (12/9).



Kendati baru memperoleh data dari 16 platform, Suhariyanto mengaku sudah memiliki gambaran umum terkait transaksi belanja e-commerce di tanah air. Salah satunya, transaksi didominasi pembelian barang elektronik dan kegiatan pariwisata.

"Komoditas yang paling banyak dijual online itu elektronik dan tourism, seperti tiket dan booking hotel. Sedangkan produk makanan enggak terlalu masif," jelas dia.


Sebagian besar transaksi, menurut dia, masih dilakukan di Jawa. Kendati demikian, potensi transaksi di luar pulau Jawa dinilai masih sangat besar.

"Mayoritas transaksi masih di Jawa. Potensi online yang di luar jawa itu besar sekali," kata dia. (agi/bir)