BUMN Tambang Berharap Berkah Dari Kenaikan Harga Komoditas

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 14/09/2018 06:13 WIB
BUMN Tambang Berharap Berkah Dari Kenaikan Harga Komoditas Ilustrasi tambang nikel. (REUTERS/Yusuf Ahmad).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan-perusahaan BUMN pertambangan menaruh harap 'setinggi langit' kinerjanya bakal kinclong sampai akhir tahun nanti. Harapan itu bukan isapan jempol semata, mengingat kenaikan harga komoditas dan pelemahan rupiah menjadi berkah tersendiri bagi industri tambang.

Lihatlah, sepanjang semester pertama tahun ini, raupan laba bersih empat BUMN sektor tambang yang terangkum dalam laba konsolidasi PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mencapai Rp5,3 triliun atau melesat 174 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menjadi dua faktor yang mendongkrak laba konsolidasi holding BUMN tambang tersebut.
Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan mengungkapkan perusahaan tambang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas tahun ini yang mencapai dua digit.

"Harga jual komoditas batu bara, timah, nikel, secara year on year memang relatif naik cukup bagus, sehingga kenaikan harga jual berkontribusi pada pendapatan mereka," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (13/9).


Kinerja keuangan perusahaan juga mendapatkan imbas positif dari pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pasalnya, pembayaran ekspor dilakukan dalam bentuk dolar AS, sedangkan ongkos produksinya dibayar dalam bentuk rupiah.

"Pelemahan rupiah sedikit berkontribusi juga," kata Alfred.

Lebih lanjut ia memperkirakan perusahaan tambang pelat merah dapat mempertahankan kinerjanya untuk tetap kinclong hingga akhir tahun ini. Sebab, fluktuasi harga diproyeksi tidak banyak terjadi.

"Untuk kuartal III dan IV, sudah pasti harga tidak akan jauh dari kuartal I dan II," imbuhnya.


Secara terpisah, Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikit mengakui pelemahan rupiah memang membawa berkah. Berdasarkan perhitungan perusahaan, setiap pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS, maka laba PTBA dan PT Timah Tbk akan terdongkrak.

"Memang nature-nya kami itu bisnisnya ekspor sumber daya. Jadi, (pelemahan rupiah) dampaknya positif," jelas Budi.

Untuk PTBA, lanjut Budi, setiap kurs turun Rp100 per dolar AS, laba bersih perusahaan akan naik Rp24 miliar hingga akhir tahun. Untuk Timah, setiap kurs rupiah turun Rp100 per dolar AS, maka labanya akan naik Rp9 miliar.

Sementara, untuk Antam, pelemahan rupiah malah merugikan. Pasalnya, Antam memiliki portofolio pinjaman asing hingga US$500 juta.


"Jadi, setiap (kurs rupiah) turun Rp100 per dolar AS, Antam labanya sampai akhir tahun minus Rp11 miliar," katanya.

Berdasarkan laporan keuangan resmi PTBA, laba bersih yang dicetaknya sebesar Rp2,58 triliun sepanjang Januari-Juni 2018 atau melonjak sekitar 33 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp1,72 triliun.

Kenaikan laba ditopang oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 17,3 persen menjadi Rp10,52 triliun. Sementara, beban pokok hanya naik sebesar 9 persen menjadi Rp6,1 triliun.

Kinerja mengilap juga dibukukan oleh Antam. Sepanjang paruh pertama tahun ini, perusahaan mencetak laba sebesar Rp344,45 miliar. Sebagai pembanding saja, pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan menelan kerugian sebesar Rp496,12 miliar.

BUMN Tambang Cetak Kinerja Kinclong Berkat Harga KomoditasIlustrasi tambang nikel. (REUTERS/Yusuf Ahmad).

Perusahaan berhasil mencetak profit karena nilai penjualan bersih yang melesat hampir empat kali lipat dari Rp3,01 triliun menjadi Rp11,81 triliun.

Sebagian besar penjualan ditopang oleh komoditas emas yang menyumbang Rp8,2 triliun atau sekitar 9 persen dari total penjualan bersih.

Selama periode tersebut, perusahaan mencatatkan total volume penjualan emas sebesar 13.760 kilogram atau melesat 317 persen dibandingkan semester I 2017.

Kemudian, penjualan feronikel menyusul sebesar Rp2,53 triliun atau sekitar 21 persen dari total penjualan bersih. Raupan penjualan tersebut diperoleh dari penjualan 12.879 TNi atau meningkat 94 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu 6.634 TNi.


Penjualan bijih nikel juga melesat 488 persen menjadi 1,92 juta wmt. Alhasil, nilai penjualan bijih nikel perusahaan melonjak 486 persen menjadi Rp858 miliar.

Selanjutnya, sepanjang Januari-Juni 2018, Antam juga menjual bauksit sebanyak 256 ribu wmt atau naik dua kali lipat dibandingkan semester I 2017. Pendapatan penjualan bauksit mencapai Rp125 miliar.

Kemudian, PT Timah juga berhasil mengerek labanya sekitar 12,93 persen pada semester I 2018 dari Rp150,65 miliar menjadi Rp170,14 miliar. Pada kuartal I 2018 lalu, laba Timah tergerus sekitar 18 persen.

Pendapatan usahanya juga naik 1,62 persen menjadi Rp4,38 triliun. Sementara, beban pokok perusahaan hanya naik tipis sebesar 0,81 persen menjadi Rp3,70 triliun.

Kenaikan profit utamanya berasal dari merosotnya biaya perolehan bahan baku bijih timah sebesar 18,6 persen dari Rp2,53 triliun menjadi Rp2,06 triliun.


(bir)