Defisit Neraca Dagang, Rupiah Lesu ke Rp14.880 per Dolar AS

Tim, CNN Indonesia | Senin, 17/09/2018 17:41 WIB
Defisit Neraca Dagang, Rupiah Lesu ke Rp14.880 per Dolar AS Nilai tukar rupiah melemah 74 poin atau 0,5 persen ke level Rp14.880 per dolar AS. Pelemahan rupiah sejalan dengan rilis neraca dagang Agustus yang kembali defisit. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.880 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore ini, Senin (17/9). Posisi ini melemah 74 poin atau 0,5 persen dari posisi akhir pekan lalu, Jumat (14/9), di posisi Rp14.806 per dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.859 per dolar AS atau melemah dari posisi akhir pekan lalu di Rp14.835 per dolar AS.

Bersama rupiah, beberapa mata uang di kawasan Asia turut melemah di hadapan dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,89 persen, rupee India minus 0,87 persen, peso Filipina minus 0,44 persen, dan renminbi China minus 0,04 persen. Sementara dolar Hong Kong stagnan.


Sedangkan dolar Singapura menguat 0,03 persen, yen Jepang 0,05 persen, ringgit Malaysia 0,15 persen, dan baht Thailand 0,17 persen.

Sebaliknya, mayoritas mata uang utama negara maju justru menguat dari dolar AS. Dolar Kanada menguat 0,07 persen, poundsterling Inggris 0,22 persen, euro Eropa 0,24 persen, dolar Australia 0,27 persen, dan franc Swiss 0,32 persen. Hanya rubel Rusia yang melemah 0,05 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan rupiah hari ini bersandar di zona merah karena terpukul sentimen dari dalam negeri.


"Rupiah melemah karena neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2018 kembali defisit sampai US$1,02 miliar," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/9).

Hal ini, katanya, bisa menjadi pemberat langkah BI bila nantinya perlu kembali melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Sementara, tekanan dari eksternal, menurutnya, sedikit banyak masih membayangi rupiah, khususnya dari perang dagang antara AS-China.


Meski, kedua negara dikabarkan akan bernegosiasi terkait kelanjutan perang dagang, namun dikabarkan AS justru akan mengumumkan kepastian soal pemberlakuan tarif bea masuk impor baru bagi produk China.

"Bisa jadi kekhawatiran pasar akan berlanjut karena hal ini," imbuhnya.

Sedangkan sentimen lain, seperti rencana kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve belum kembali mempengaruhi rupiah. Dini memproyeksi rupiah bergerak di kisaran Rp14.820-14.940 per dolar AS pada esok hari.


(uli/bir)