BI Janji Jaga Daya Tarik Aset Rupiah

Tim, CNN Indonesia | Senin, 17/09/2018 18:39 WIB
BI Janji Jaga Daya Tarik Aset Rupiah Deputi Gubenur BI Dody Budi Waluyo mengatakan pihaknya akan menjaga disparitas suku bunga domestik dengan maju dan berkembang, agar instrumen berdenominasi rupiah tetap mampu menarik. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) berjanji akan menjaga disparitas suku bunga domestik dengan maju dan berkembang, agar di tengah tingginya potensi perang suku bunga acuan global, instrumen berdenominasi rupiah tetap mampu menarik.

Hal itu ditegaskan Deputi Gubenur BI Dody Budi Waluyo menyikapi keputusan agresif Bank Sentral Turki yang menaikkan suku bunga acuannya hingga 625 basis poin menjadi 24 persen pada Kamis (13/9) lalu.

"Yang penting berikutnya bagaimana menjaga modal masuk, karena bagaimana pun juga defisit (transaksi berjalan) perlu pembiayaan dan akan tertutupi kalau misalnya aliran modal masuk tidak saja dari investasi asing langsung, tapi juga investasi portofolio. Itu pentingnya jaga perbedaan suku bunga," ujar dia seperti dikutip dari Antara, Senin (17/9).



Disinggung apakah BI akan turut menaikkan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" pada rapat dewan gubernur 26-27 September 2018 mendatang, Dody tidak menjawab spesifik.

Ia hanya menegaskan Bank Sentral akan mempertimbangkan semua faktor eksternal dan domestik. Menurutnya, banyak faktor yang harus dilihat BI baik dari dalam maupun luar negeri sebelum menentukan kebijakan suku bunga acuan. 

"Jadi tidak serta merta suku bunga The Fed naik kami juga menaikkan suku bunga BI. Lalu, tidak serta merta Turki dinaikkan suku bunganya kita juga menaikkan," katanya.


Selain Turki, negara maju lainnya juga diperkirakan akan ikut menaikkan suku bunganya, antara lain Kanada dan Swedia pada kuartal keempat 2018, dan Amerika Serikat pada September dan Desember 2018.

Untuk menyikapi kebijakan tersebut BI berkomitmen menerapkan kebijakan yang antisipasi dengan jargon "front loading", "preemptive" dan "ahead of the curve".

BI menjadwalkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 26-27 September 2018. Pertemuan bulanan rutin untuk menentukan kebijakan itu diundur menjadi di pekan keempat September.

Sebelumnya, rapat dilakukan pada pekan kedua atau ketiga. Penjadwalan RDG pada pekan keempat itu khusus untuk menanti keputusan dari komite pasar terbuka Bank Sentral AS (FOMC) 25-26 September 2018. Bank Sentral AS The Federal Reserve diperkirakan pelaku pasar global akan menaikkan suku bunga acuannya yang ketiga kali tahun ini pada rapat itu.

(Antara/agt)