Oktober, China Pangkas Tarif Impor dari Sejumlah Mitra Dagang

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 21/09/2018 13:31 WIB
Oktober, China Pangkas Tarif Impor dari Sejumlah Mitra Dagang Ilustrasi kegiatan ekspor impor. (Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah China berencana membuka ekonomi mereka dengan memangkas rata-rata tarif impor dari sebagian besar negara mitra dagang. Pemangkasan tarif tersebut rencananya dilakukan Oktober ini.

Pemangkasan tarif dagang tersebut merupakan lanjutan. Juli lalu mereka telah memangkas tarif impor atas 1.500 produk konsumsi, mulai dari kosmetik hingga peralatan rumah tangga.

Rencana tersebut juga sejalan dengan janji Beijing kepada mitra dagang, termasuk Amerika Serikat; mereka akan melakukan langkah lanjutan untuk meningkatkan impor mereka dari sejumlah negara.


Tapi sayang, laporan Reuters yang dikutip CNNIndonesia.com Kamis (20/9) tidak mengungkap negara mana saja yang bisa menikmati tarif impor murah China tersebut.  Sebagai informasi, dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) di pelabuhan utara Kota Tianjin, Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan pemerintahannya akan terus melanjutkan kebijakan penurunan tarif impor atas beberapa barang.

Janji tersebut ia sampaikan di tengah kecamuk perang dagang negaranya dengan Amerika Serikat. Ketegangan perang dagang antara China dengan Amerika Serikat semakin menjadi.

Awal pekan ini, AS melancarkan serangan dagang baru terhadap China dengan memberlakukan tarif atas impor bernilai US$200 miliar dari China. Serangan tersebut langsung dibalas China dengan memberlakukan tarif atas impor barang bernilai US$60 miliar dari AS.

Perang dagang tersebut telah berdampak pada industri di kota dan provinsi di China, terutama mereka yang bergantung pada bahan baku asal AS. Pendiri perusahaan e-commerce asal China Alibaba Group Jack Ma mengatakan perang dagang juga telah berdampak  pada perusahaannya.

Perang dagang telah menggagalkan ambisi Alibaba menciptakan 1 juta lapangan pekerjaan di Amerika Serikat. Ma memperkirakan perang dagang akan berlangsung lama.
(Reuters/agt)