Wamen ESDM Sebut Bisnis Gas di Indonesia Masih Penuh Ganjalan

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 26/09/2018 11:40 WIB
Wamen ESDM Sebut Bisnis Gas di Indonesia Masih Penuh Ganjalan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan pengembangan bisnis gas di Indonesia menghadapi banyak tantangan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menyatakan pengembangan bisnis gas di Indonesia masih mengalami banyak tantangan. Tantangan utama, datang dari ketersediaan infrastruktur penunjang.

Pasalnya, untuk mengembangkan bisnis gas infrastruktur harus disesuaikan dengan kondisi geografis di Indonesia. Celakanya kata Arcandra, dalam mengembangkan infrastruktur gas, Indonesia masih belajar dari negara kontinental.

Padahal, kondisi geografis Indonesia yang kepulauan berbeda dengan mereka. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur gas butuh penyesuaian. 



"Mau bicara seperti apapun perencanaan pengembangan gas tanpa infrastruktur, tidak akan berjalan. Beda dengan minyak, kalau minyak produksi (banyak), ekspor mudah. Tapi bicara gas tidak semudah itu, kita harus bangun infrastruktur sebelum dikembangkan," ujar Arcandra seperti dikutip dalam keterangan resmi, Rabu (26/9).

Selain infrastruktur, Arcandra mengatakan pengembangan bisnis juga terkendala oleh ketidakpastian kebutuhan gas dalam negeri.

"Kami tidak bisa pastikan permintaan (gas) di Indonesia dalam tujuh tahun. Siapa yang bisa jamin permintaan dalam 20 tahun? Persoalan di kementerian, kami komitmen untuk menyediakan (gas) 100 MMSCFD pada tahun 2018 tapi yang terjadi malah offtaker (penyerap) tidak ada," ujarnya.

Arcandra mengatakan saat ini pengembangan bisnis gas juga terganjal kesediaan untuk membayar (willingness to pay) saat terjadi perubahan harga di pasar.  
Terlebih, kontrak jual beli gas selama ini selalu mencantumkan klausul pengkajian ulang harga (price review). Klausul ini memungkinkan kedua pihak yang berkontrak harus melakukan perundingan ulang yang juga melibatkan pemerintah.

"Misalnya di kontrak US$6 per MMBTU kemudian hari ini produsen gas punya peluang tingkatkan harga karena harganya naik ke US$8 per MMBTU. Kenapa bisa? Karena dikontrak memungkinkan untuk review harga,"ujarnya.


Arcandra mengatakan kontrak jual beli gas nantinya perlu mencantumkan risiko bisnis dalam menentukan harga sehingga lebih memudahkan dalam menjalankan bisnis gas di Indonesia.

Selain tantangan di atas, menurut Arcandra, masih ada tiga tantangan lain yang menentukan mulusnya pengembangan bisnis gas di Indonesia, yaitu; skema pendanaan, ketidakpastian produksi akibat keterbatasan teknologi hingga sumber daya manusia.

"Tantangan terbesar adalah pengembangan sumber daya manusia. Apakah kita punya sumber daya manusia yang baik untuk jalankan industri migas Indonesia? Orang asing silakan ke Indonesia tetapi jadikan itu untuk belajar," pungkasnya.


(sfr/agt)