Risiko Global berlanjut, OJK Klaim Stabilitas Keuangan Stabil

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 27/09/2018 15:29 WIB
Risiko Global berlanjut, OJK Klaim Stabilitas Keuangan Stabil OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan masih dalam kondisi terjaga, di tengah kondisi likuiditas di pasar keuangan global yang berfluktuasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan masih dalam kondisi terjaga, di tengah kondisi likuiditas di pasar keuangan yang berfluktuasi akibat berlanjutnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Hal itu diungkapkan Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik Anto Prabowo sebagai hasil dari Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK yang berlangsung Rabu (26/9).

Dalam beberapa waktu terakhir, kondisi pasar keuangan global masih mengalami ketidakpastian, dipicu isu perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta normalisasi kebijakan moneter AS dan Eropa. Ketidakpastian ini telah meningkatkan tekanan di pasar keuangan negara berkembang, khususnya negara yang mengalami ketidakseimbangan eksternal.


"OJK mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi dampak tekanan pasar keuangan global terhadap ekonomi domestik," ungkap Anto dalam keterangan tertulis, Kamis (27/9).


Upaya pemerintah yang dimaksud antara lain, penjadwalan ulang proyek infrastruktur non-strategis dengan konten impor tinggi, penggunaan biosolar (B20), dan peningkatan tarif pajak penghasilan (PPh) impor produk konsumsi.

Dinamika di pasar keuangan diperkirakan masih akan berlanjut seiring risiko penurunan ekonomi (downside risk) yang masih tinggi di lingkup global. OJK memandang kemampuan jasa keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masih terbuka, namun tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Beberapa faktor risiko yang menjadi perhatian di antaranya, perkembangan suku bunga dan likuiditas global, gejolak di pasar keuangan negara berkembang, dan tensi perang dagang.

"OJK akan mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional, serta memperkuat koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait," lanjut Anto.



Per September 2018, pasar modal domestik terpantau relatif stabil. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1 persen secara bulanan, dengan jual bersih (net sell) sebesar Rp2,5 triliun. Sepanjang 2018, IHSG terkoreksi sebesar 6,3 persen dengan net sell investor nonresiden mencapai Rp52,7 triliun.

Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil (yield) tenor jangka pendek, menengah, dan panjang kembali meningkat masing-masing sebesar 82 bps, 22 bps, dan 42 bps secara bulanan. Sampai 21 September, investor asing melakukan beli bersih Rp4,4 triliun.

Kinerja intermediasi sektor jasa keuangan pada Agustus 2018 masih bergerak positif. Kredit perbankan dan piutang pembiayaan masing-masing tumbuh 12,12 persen dan 5,82 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yakni 11,34 persen dan 5,53 persen.

Dari sisi penghimpunan dana, perbankan mencatatkan peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) 6,88. Premi asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing mencatat sebesar Rp114,8 triliun dan Rp49,3 triliun per Agustus 2018.

Sementara di pasar modal, penghimpunan dana oleh korporasi sepanjang 2018 mencapai Rp130 triliun, dengan emiten baru sebesar 39 perusahaan, dan total dana kelolaan investasi sebesar Rp740,69 triliun, meningkat 7,58 persen dibanding akhir 2017.


Di tengah berlanjutnya volatilitas di pasar keuangan domestik, profil risiko lembaga jasa keuangan masih terjaga pada level yang terkelola. Rasio kredit macet (Non-Performing Loan/NPL) perbankan tercatat sebesar 2,74 persen, sedangkan rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan berada pada level 3,11 persen.

Lembaga jasa keuangan diklaim mencatatkan modal yang cukup tinggi. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan per Agustus 2018 tercatat 23,01 persen, sedangkan modal berbasis risiko (Risk-Based Capital) industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 309 persen dan 434 persen. (lav/bir)