Direktur Utama PT BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan optimisme didasarkan pada pola pertumbuhan kredit kuartal III dan IV cenderung lebih agresif ketimbang kuartal I dan II. BCA yakin, pada kuartal III nanti penyaluran akan melaju pesat terdorong pertumbuhan kredit korporasi yang mulai menghimpun dana untuk belanja modal.
Meskipun belum ada laporan terbaru, Jahja yakin permintaan dari korporasi tersebut akan mendorong penyaluran kredit kuartal III BCA tumbuh lebih dari 12 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BI sebagai catatan, telah menaikkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 150 basis poin (bps) sejak awal tahun menjadi 5,75 persen mengikuti tren kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika The Fed. BCA juga sudah menaikkan suku bunga pinjaman dua kali tepatnya pada Agustus dan Oktober masing-masing sebesar 25 basis poin (bps).
Jahja memprediksi The Fed akan mengerek suku bunga lagi pada penghujung tahun sebesar 25 bps. Untuk tahun depan, The Fed berpeluang menaikkan suku bunga tiga sampai empat kali. Jahja berharap BI bisa mengambil langkah bijaksana dalam mengimbangi tren kenaikan suku bunga The Fed tanpa menghiraukan pengaruhnya pada suku bunga pinjaman domestik.
"Kalau dibilang mau ngegas itu harus dua kalinya Amerika Serikat (The Fed) karena base kita lebih kecil. Tapi kalau seperti itu, perlu melihat ekonomi kita, bunga pinjaman harus disseimbangkan tidak bisa semata dinaikkan saja," kata Jahja.
Sekadar informasi, pada semester I 2018 BCA telah menyalurkan kredit sebesar Rp494 triliun tumbuh 14,2 persen dari posisi Rp433 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
(ulf/agt)