JK Soal Ekonomi RI: Di Luar Dipuji, Di Dalam Dikritik

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 10/10/2018 10:18 WIB
JK Soal Ekonomi RI: Di Luar Dipuji, Di Dalam Dikritik Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai ekonomi Indonesia yang diproyeksi tumbuh di level 5 persen merupakan penilaian yang baik dari pihak internasional. (CNN Indonesia/Christie Stefanie).
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai ekonomi Indonesia yang diproyeksi tumbuh di level 5 persen merupakan penilaian yang baik dari pihak internasional, karena termasuk pergerakan signifikan di level menengah.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksi ekonomi Indonesia akan tumbuh di di level 5,1 persen pada 2018. Berdasarkan laporan World Economic Outlook (WEO) Oktober 2018, angka pertumbuhan ekonomi ini menurun dari proyeksi April 2018 sebesar 5,3 persen.

Kepala Ekonom IMF Maurice Obstfeld mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia turun karena ada pengaruh dari perkembangan ekonomi global yang diperkirakan turun dari 3,9 persen menjadi 3,7 persen pada tahun ini.



"Pertumbuhan 5 persen itu keadaan di level menengah. Level menengah mudah naik, tapi kalau tidak dikelola dengan baik akan sulit juga," ujarnya dalam pidato peluncuran CNBCIndonesia TV di Badung, Bali, Rabu (10/10).

Kendati demikian, banyak pihak di dalam negeri justru mengkritik dan memberi penilaian negatif terhadap potensi ekonomi nasional.

"Kami menghargai penilaian yang baik itu. Kita banyak membaca penilaian positif (dari luar negeri), dalam negeri penilaiannya lebih negatif daripada di luar. Di dalam dikritik, di luar dipuji. begitulah indonesia," ungkapnya.

Kendati demikian, dia mengakui ekonomi Indonesia memang mengalami banyak tantangan. Menurut dia, di era keterbukaan saat ini, ekonomi Indonesia tentu sangat terpengaruh oleh kondisi perekonomian global.


Ketegangan perdagangan antara dua negara raksasa ekonomi dunia, yakni Amerika Serikat dan China dinilai turut menyeret negara berkembang, termasuk Indonesia ke dalam lubang hitam pelemahan ekonomi.

"Bagaimana perang dagang, konsumsi dunia, gejolak di pasar uang yang menyebabkan rupiah melemah dari global, itu juga pengaruh," sebutnya.

Maka itu, lanjutnya, dibutuhkan informasi yang terpercaya dari media agar pelaku kebijakan mampu mengambil kebijakan dengan baik berdasarkan data yang akurat.


Dalam kesempatan tersebut, Mantan Menteri Perindustrian itu juga mengatakan pemerintah akan segera mengambil tindakan berupa kebijakan ekonomi strategis dalam waktu dekat. (lav/bir)