Kinerja Saham Global Lesu, Harga Minyak Dunia Anjlok 3 Persen

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 07:23 WIB
Kinerja Saham Global Lesu, Harga Minyak Dunia Anjlok 3 Persen Harga minyak mentah dunia terjerembab hingga 3 persen, ke level terendah dalam dua pekan terakhir pada Kamis (11/10), seiring merosotnya pasar saham global. (REUTERS/Sergei Karpukhin).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia terjerembab hingga 3 persen, ke level terendah dalam dua pekan terakhir pada perdagangan Kamis (11/10), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan terjadi seiring merosotnya pasar saham global.

Selain itu, sentimen yang menekan harga juga berasal dari kenaikan jumlah pasokan minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Dilansir dari Reuters, Jumat (12/10), harga minyak mentah berjangka merosot 3,41 persen atau US$2,83 menjadi US$80,26 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, harga Brent sempat tertekan ke level US$79,8 per barel, terendah sejak 24 September 2018.



Pekan lalu, harga minyak mentah menembus level tertinggi dalam empat tahun terakhir US$86,74 per barel pada 3 Oktober 2018.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$2,2 atau 3,01 persen menjadi US$70,97 per barel, terendah sejak 21 September 2018.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah AS naik 6 juta barel pekan lalu. Realisasi itu lebih dari dua kali lipat dibanding proyeksi para analis yang hanya naik 2,6 juta barel.

"Kenaikan signifikan dari persediaan minyak mentah mencerminkan aktivitas kilang menurun untuk perawatan," ujar Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow.


Minyak mentah di kilang turun sebesar 352 ribu barel per hari seiring turunnya level utilisasi sebesar 1,6 persen.

Harga juga ditekan oleh merosotnya pasar saham AS dan kondisi menghindari risiko (risk-off) di pasar global. Rabu (10/10), pasar saham AS tersandung bersama dengan indeks saham S&P dan the Dow Industrial yang mengalami kinerja harian terburuk dalam enam bulan terakhir. Hal itu terjadi akibat data perekonomian AS yang solid, memicu ekspektasi suku bunga acuan bakal naik beberapa kali tahun depan.

"Seiring pasar modal yang tergelincir di tengah kenaikan suku bunga, pasar minyak memulai skenario penurunan harga terburuk dalam hal ekspektasi permintaan minyak," ujar Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak mentah global tahun depan untuk tiga bulan berturut-turut. Pasalnya, perekonomian di negara berkembang bergejolak terkena imbas dari perang dagang.


Pada Selasa (9/10), Sekretaris Jenderal OPEC menyatakan OPEC melihat pasokan minyak di pasar mencukupi dan waspada akan terciptanya kelebihan pasokan di pasar tahun depan.

Di AS, Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan (BSEE) menyatakan produsen minyak di Teluk Meksiko telah memangkas produksi sekitar 40 persen atau sekitar 680.107 barel per hari pada Kamis (11/10) kemarin akibat Badai Michael.

Hal itu terjadi karena sebagian operator mulai mengembalikan pekerja di platform lepas pantai. Badai Michael menerjang Florida pada Rabu (10/10) dan merupakan badai terkuat ketiga yang pernah menerjang dataran di AS. (sfr/lav)