Pertamina dan CPC Taiwan Sepakat Bangun Petrokimia Rp97 T

CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 18:14 WIB
Pertamina dan CPC Taiwan Sepakat Bangun Petrokimia Rp97 T Pertamina dan China Petroleum Corporation menandatangani perjanjian pengembangan proyek komplek petrokimia senilai US$6,49 miliar atau setara Rp.97 triliun. (Adhi Wicaksono).
Nusa Dua, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) dan perusahaan pelat merah Taiwan China Petroleum Corporation (CPC) menandatangani kerangka perjanjian (Framework Agreement) pengembangan proyek komplek petrokimia dengan nilai mencapai US$6,49 miliar atau setara Rp97 triliun.

Nilai investasi ini merupakan investasi terbesar pada program Investasi BUMN untuk Negeri yang ditandatangani pada kegiatan Indonesian Investment Forum (IIF) di Bali.

Penandatangan dilakukan oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan Chairman CPC Taiwan Chein Tai, disaksikan pula oleh Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri BUMN Rini M Soemarno.


Kerjasama Pertamina dan CPC Taiwan dilakukan dalam bentuk pembangunan pabrik pemecah nafta (naphtha cracker) dan unit pengembangan sektor hilir petrokimia berskala global di Indonesia.

Selama ini, sebagian besar nafta masih diimpor oleh Indonesia. Dengan terbangunnya pabrik napfhta crackers, Indonesia nantinya dapat mensubstitusi impor dan berpotensi menghemat devisa negara hingga US$2,4 miliar per tahun.

"Kerjasama yang saat ini dilakukan merupakan komitmen kita bersama dalam upaya mengurangi impor," ujar Rini di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10).


Di tempat yang sama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menambahkan, perusahaan akan melakukan pembenahan kilang lama serta membangun memperkuat bisnis petrokimia secara terintegrasi.

"Framework Agreement ini dilakukan guna meningkatkan nilai tambah produk dari produk-produk turunan yang dihasilkan kilang Pertamina," ujarnya.

Nicke menargetkan proyek ini mulai beroperasi pada 2026 dengan skema joint venture antara Pertamina, CPC Taiwan, dan beberapa mitra hilir potensial lainnya. Pabrik ini diharapkan akan memproduksi paling sedikit satu juta ton ethylene per tahun dan membangun unit hilir yang akan memproduksi produk turunan kilang lainya untuk memenuhi kebutuhan industri di Indonesia.




(sfr/lav)