Nilai investasi ini merupakan investasi terbesar pada program Investasi BUMN untuk Negeri yang ditandatangani pada kegiatan Indonesian Investment Forum (IIF) di Bali.
Penandatangan dilakukan oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan Chairman CPC Taiwan Chein Tai, disaksikan pula oleh Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri BUMN Rini M Soemarno.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerjasama Pertamina dan CPC Taiwan dilakukan dalam bentuk pembangunan pabrik pemecah nafta (naphtha cracker) dan unit pengembangan sektor hilir petrokimia berskala global di Indonesia.
Selama ini, sebagian besar nafta masih diimpor oleh Indonesia. Dengan terbangunnya pabrik napfhta crackers, Indonesia nantinya dapat mensubstitusi impor dan berpotensi menghemat devisa negara hingga US$2,4 miliar per tahun.
Di tempat yang sama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menambahkan, perusahaan akan melakukan pembenahan kilang lama serta membangun memperkuat bisnis petrokimia secara terintegrasi.
"Framework Agreement ini dilakukan guna meningkatkan nilai tambah produk dari produk-produk turunan yang dihasilkan kilang Pertamina," ujarnya.
Nicke menargetkan proyek ini mulai beroperasi pada 2026 dengan skema joint venture antara Pertamina, CPC Taiwan, dan beberapa mitra hilir potensial lainnya. Pabrik ini diharapkan akan memproduksi paling sedikit satu juta ton ethylene per tahun dan membangun unit hilir yang akan memproduksi produk turunan kilang lainya untuk memenuhi kebutuhan industri di Indonesia.