Yenny Wahid Boyong Investasi Rp1,5 Triliun dari Arab Saudi

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 11/10/2018 15:43 WIB
Yenny Wahid Boyong Investasi Rp1,5 Triliun dari Arab Saudi Direktur Wahid Institute Yenny Wahid menggandeng investor Arab Saudi untuk membiayai proyek infrastruktur di Indonesia. (Dok. Istimewa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Wahid Institute Yenny Wahid menggandeng investor Arab Saudi untuk membiayai proyek infrastruktur di Indonesia senilai US$100 juta atau setara Rp1,5 triliun.

Perusahaan investasi asal Arab Saudi Heritage Amanah dan perusahaan investasi nasional Bahana Kapital Investa menandatangani perjanjian kerja sama tersebut pada Rabu (10/10).

"Heritage Amanah, diwakili oleh Presiden Direkturnya, Ibu Salina Noordin, telah menanda tangani sebuah perjanjian kerjasama dengan perusahaan BUMN," ungkap Yenny dalam keterangan tertulis yang terbit pada Kamis (11/10).


Hari ini, Yenny mempertemukan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dengan Rahman Al Saeed, Penasehat Kerajaan Arab Saudi sekaligus Ketua Komite Perdagangan Internasional Saudi (ICT). Pertemuan dilakukan disela-sela Forum Tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (IMF World Bank) di Bali.


Saat ini, Al Saeed juga menjabat sebagai Board of Eminence Heritage Amanah Group, sebuah grup penasihat investasi swasta yang mewakili banyak grup konglomerasi besar asal Timur Tengah.

"Saya melihat saat ini investasi dari Timur Tengah masih sangat minim di Indonesia. Padahal Raja Salman sudah ke sini bawa rombongan besar. Kenapa ini terjadi?," ujar putri Presiden ke-4 RI tersebut, Kamis (11/10).


Menurut dia, minimnya investasi dari Timur Tengah ke Indonesia disebabkan hambatan komunikasi. Kedua pihak sama-sama pasif, sehingga kelompok investor Arab Saudi yang tertarik untuk menanamkan modal cenderung menggunakan perantara asing dengan biaya yang tinggi.

Pada akhirnya, nilai investasi proyek secara keseluruhan menjadi lebih mahal dibanding ketika berinvestasi langsung. Maka itu, menurut Yenny, pola perantara tersebut yang harus diubah.

"Sekarang langsung dipertemukan antara yang punya uang dan yang punya proyek, jadi lebih efisien," ungkapnya.

Selama ini, lanjut Yenny, investasi Arab Saudi lebih banyak diarahkan ke Amerika Serikat. "Kita harus tarik untuk masuk ke Indonesia," sambungnya.


Yenny mengklaim Menteri Rini mendukung kerja sama antara kedua pihak karena dianggap menciptakan sumber pendanaan alternatif di tengah dominasi investasi dari perusahaan asal China.

"Ibu Rini bahkan mengatakan perlu ada kerjasama investasi khusus antara Saudi dan Indonesia, karena keduanya punya banyak kesamaan, yaitu market Muslim yang besar," tuturnya. (lav/bir)