Perang Dagang Antara AS dan China Bakal Diselesaikan di WTO

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 14/10/2018 15:05 WIB
Perang Dagang Antara AS dan China Bakal Diselesaikan di WTO Pertemuan IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali. (Goh Chai Hin/AFP).
Nusa Dua, CNN Indonesia -- Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) bakal membawa permasalahan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China ke Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organizatio/WTO). Persoalan ini disebut telah memengaruhi ekonomi global.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menyebut perang dagang antar kedua negara tersebut perlu diselesaikan secara multilateral atau bersama dengan beberapa negara. Sebagian besar dari pejabat negara maju menilai persoalan ini akan terus berdampak negatif apabila didiamkan seperti ini.

"Tanpa dilakukan dalam bentuk multilateral, maka akan menyulitkan secara globalnya. Ini sebenarnya tidak akan ada yang dimenangkan," ujar Doddy di Bali, Sabtu (13/10).


Berbagai pejabat negara yang masuk dalam keanggotaan IMF berpendapat perlu ada diskusi untuk membuat kebijakan perdagangan antar negara secara adil. Dengan kata lain, tidak merugikan salah satu pihak, melainkan menguntungkan kedua belah pihak.

"Dengan ini tentunya harapannya semacam retaliasi saling memberikan tekanan antar dua negara itu bisa berkurang kalau di bawah perjanjian WTO," jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menilai ketegangan perang dagang akan membuat pertumbuhan ekonomi global turun satu persen dalam dua tahun ke depan. Pada 2018 dan 2019, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi hanya 3,7 persen dari prediksi sebelumnya yang mencapai 3,9 persen.


Sementara itu, Beberapa pejabat negara yang tergabung dalam Kelompok 20 ekonomi utama atau G-20 sepakat untuk memperbarui sistem perdagangan internasional. Hal ini sebagai respons ketegangan perang dagang antara AS dengan China.

G-20 ini terdiri dari 20 negara, seperti Afrika Selatan, AS, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, Britania Raya, China, India, Indonesia, Italia, Jepag, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Perancis, Rusia, Turki, dan Uni Eropa (EU).

"Kami mengenali bahwa saat ini kami menghadapi ketegangan (perang dagang) di antara negara G-20," tandas Menteri Keuangan Argentina Nicolás Dujovne.


(aud/bir)