The Fed Kurang 'Menggigit', Rupiah Menguat ke Level 15.187

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 19/10/2018 16:48 WIB
The Fed Kurang 'Menggigit', Rupiah Menguat ke Level 15.187 Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.187 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan pasar spot sore ini, Jumat (19/10), menguat 8 poin atau 0,05 persen. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.187 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot sore ini, Jumat (19/10). Posisi ini menguat 8 poin atau 0,05 persen dari Kamis (18/10) di Rp15.195 per dolar AS.

Sebaliknya, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp15.221 per dolar AS. Posisi ini melemah 34 poin dari kemarin sore di Rp15.187 per dolar AS.

Di kawasan Asia, sejumlah mata uang turut menguat bersama rupiah. Peso Filipina menguat 0,42 persen, won Korea Selatan 0,26 persen, rupee India 0,21 persen, dolar Singapura 0,2 persen, renminbi China 0,1 persen, dan baht Thailand 0,09 persen. Namun, dolar Hong Kong melemah 0,02 persen, ringgit Malaysia minus 0,03 persen, dan yen Jepang minus 0,22 persen.



Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas bersandar di zona hijau. Dolar Kanada menguat 0,28 persen, dolar Australia 0,18 persen, poundsterling Inggris 0,14 persen, dan rubel Rusia 0,04 persen. Hanya franc Swiss dan euro Eropa yang melemah, masing-masing minus 0,05 persen dan minus 0,02 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan penguatan rupiah hari ini dipengaruhi oleh hilangnya efek dari pernyataan bank sentral AS, The Federal Reserve ke pasar keuangan.

Sebelumnya, dalam risalah rapat, The Fed memberi sinyal tetap agresif (hawkish) untuk mengerek tingkat bunga acuan pada Desember mendatang. Pernyataan itu sempat membuat pasar bereaksi dan sejumlah mata uang melemah, termasuk rupiah.


"Mungkin karena sudah di-respons sejak lama, jadi level rupiah di kisaran Rp15 ribu per dolar AS ini bisa dibilang sudah 'mentok', sehingga efek The Fed tidak bertahan lama," ujar Dini kepada CNNIndonesia.com, Jumat (19/10).

Meski begitu, Dini bilang, sejatinya indeks dolar AS masih cukup kuat. Begitu pula dengan imbal hasil surat utang AS (yield US Treasury) yang masih cukup meyakinkan. "Ini seharusnya bisa jadi tekanan, tapi ternyata tidak terjadi hari ini," imbuhnya.

Untuk pekan depan, Dini memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp15.100-15.240 per dolar AS dengan kecenderungan stabil. Artinya, sekalipun rupiah menguat atau melemah pada pekan depan, pergerakannya tidak akan terlalu signifikan.


Sementara itu, sentimen yang diperkirakan bakal mempengaruhi rupiah pada pekan depan, yaitu pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 23 September 2018. Pada RDG BI kali ini, menurutnya, pasar berekspektasi bank sentral nasional akan mempertahankan tingkat bunga acuan di level 5,75 persen. (uli/lav)