Di kawasan Asia, mayoritas mata uang melemah dari dolar AS. Won Korea Selatan minus 0,5 persen peso Filipina minus 0,18 persen, baht Thailand minus 0,09 persen, ringgit Malaysia minus 0,05 persen, dan dolar Singapura minus 0,04 persen. Namun, dolar Hong Kong menguat 0,01 persen dan yen Jepang 0,03 persen.
Begitu pula dengan mata uang utama negara maju. Rubel Rusia minus 0,15 persen, dolar Australia minus 0,11 persen, euro Eropa minus 0,03 persen, franc Swiss minus 0,03 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,01 persen. Hanya dolar Kanada yang menguat 0,04 persen dari mata uang Negeri Paman Sam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, karena pasar sudah berekspektasi bank sentral nasional akan mempertahankan tingkat bunga acuan, maka pengaruhnya terhadap mata uang Garuda diperkirakan tidak banyak.
"Karena memang fundamental ekonomi saat ini bukan alasan BI untuk menaikkan bunga. Inflasi juga masih stabil. Jadi tidak urgent (mendesak) untuk menaikkan bunga acuan dan pasar sudah tahu itu," katanya kepada CNNIndonesia.com, dikutip Selasa (23/10). (uli/bir)