Kementan Sebut Investasi Pertanian Bisa Tembus Rp61 Triliun

CNN Indonesia | Kamis, 25/10/2018 13:56 WIB
Kementan Sebut Investasi Pertanian Bisa Tembus Rp61 Triliun Ilustrasi sektor pertanian. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pertanian memproyeksi investasi sektor pertanian hingga akhir tahun bisa mencapai Rp61,58 triliun. Jika benar, angka ini melesat 34,14 persen dibanding capaian tahun lalu, yakni Rp45,9 triliun.

Sekretaris Jenderal Kementan Syukur Iwantoro mengatakan tren peningkatan investasi ini terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2015, angka realisasi investasi sudah mencapai Rp43,07 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp45,42 triliun di 2016, dan meningkat lagi jadi Rp45,9 triliun di 2017.

"Melesatnya realisasi investasi ini karena perizinannya yang cepat seiring terbitnya Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2017 tentang percepatan berinvestasi. Jadi, gap prosedur antara pemegang kebijakan dan pelaku operasional bisa selesai dengan cepat," ujarnya, Rabu (24/10).


Di tahun ini, setidaknya ada dua jenis investasi sektor pertanian yang memberikan nilai signifikan, yakni gula dan peternakan sapi.

Untuk investasi di sektor gula, saat ini ada empat proyek yang tengah direalisasikan. Pertama, Blitar, Ogan Komering Ilir (OKI) di Sumatra Selatan, Bombana di Sulawesi Tengah, dan Sumba Timur di Nusa Tenggara Timur. Seluruh pabrik ini diharapkan beroperasi pada 2020 mendatang.

Ini, lanjut dia akan melengkapi tiga pabrik gula baru yang diperkirakan mulai melakukan penggilingan pertama Mei 2019 mendatang. "Jadi kalau ditotal, mungkin 2020 mendatang akan ada sembilan pabrik gula baru," imbuh Syukur.


Menurut Syukur, investasi baru gula ini memiliki karakteristik unik. Investasi di Ogan Komering Ilir, contohnya, menanam tebunya di kawasan rawa dan menggunakan teknologi dari Guyana, sehingga produktivitas dan kadar kandungan gula (rendemen) berada di atas rata-rata Pulau Jawa.

Tak hanya itu, investasi di Sumba Timur juga disebutnya cukup unik lantaran tebu ditanam di lahan berbatu. Menurutnya, sang investor mengacu pada teknologi yang berasal dari Israel.

"Sementara untuk investasi di Bombana, tinggi pohonnya bisa mencapai 2 meter hingga 2,5 meter, tentu hasilnya juga bisa optimal," terang dia.


Untuk sektor peternakan sapi, Syukur mengungkapkan ada dua proyek yang sedang direalisasikan. Pertama, investasi asal Brazil di Sumba Timur yang mengambil lahan 1.000 hektare (ha), namun juga melibatkan peternak plasma seluas 4 ribu ha.

Kedua, investasi asal Yordania yang berencana untuk mengintegrasikan peternakan sapi dengan perkebunan tebu dengan rencana 20 ribu ha untuk tebu dan pabrik gula dan 5 ribu ha akan digunakan peternakan sapi.

Rencananya, investasi ini akan direalisasikan di Timor Tengah Utara, NTT. "Saat ini investasi dari Yordania tersebut sedang menunggu perizinan," pungkasnya.


(glh/bir)