Pameran Dagang, Indonesia Kantongi Kontrak Rp77,3 Triliun

CNN Indonesia | Kamis, 25/10/2018 20:55 WIB
Pameran Dagang, Indonesia Kantongi Kontrak Rp77,3 Triliun Ilustrasi. (Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaku usaha Indonesia telah mengantongi kontrak dagang (buying mission) sebesar US$5,09 miliar atau setara dengan Rp77,30 triliun (Kurs Rp15.188 per dolas AS) dari perhelatan Pameran Dagang Indonesia (TEI). Kontrak dagang tersebut didapatkan pelaku usaha Indonesia sampai hari kedua pelaksanaan pameran tersebut.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan Nasional Arlinda mengatakan total kontrak dagang itu telah melampaui target awal sebesar US$1,5 miliar."Artinya sudah melampaui hingga tiga kali lipat dari target transaksi yang kami tetapkan," kata Arlinda di Indonesia Convention Exhibition, Kamis (25/10).

Ia merinci pada pembukaan pameran dagang pelaku usaha berhasil membukukan kontrak dagang sebesar US$4,96 miliar. Kontrak dagang ini ditandai dengan penandatanganan 44 nota kesepahaman (MoU) antara eksportir Indonesia dengan 33 importir dari 17 negara.
Dari total kontrak dagang US$4,96 miliar pada hari pertama, sebesar US$4,68 miliar atau setara Rp71,07 triliun merupakan kerja sama investasi antara perusahaan Indonesia dengan China dan Thailand. China memegang porsi investasi lebih besar yaitu US$4,5 miliar sementara Thailand US$180 juta.


Arlinda menyebut Negeri Tirai Bambu akan menanamkan investasi pada bidang IT di Kota Belitung. Saat ini investasi tersebut tengah memasuki tahapan awal pembahasan lahan oleh pemerintah Belitung dengan pihak perusahaan. Sementara Thailand akan berinvestasi pada sektor real estate.

"Nantinya ada kesepakatan modal, porsinya 60 persen dari Indonesia dan 40 persen China," kata dia.
Pada hari pertama, eksportir Indonesia menandatangani pakta kerja sama dengan importir dari berbagai belahan dunia, meliputi; Korea Selatan, Arab Saudi, Belgia, Prancis, Austria, China, Belanda, Spanyol, Meksiko, Chile, Singapura, Amerika Serikat, dan Brasil. Adapula negara tetangga yang ikut dalam kerja sama itu, antara lain Australia, Thailand, Malaysia, dan Filipina.

Para importir tersebut berminat atas produk-produk furnitur, makanan dan minuman, makanan laut, alas kaki, bahan kimia, dan rempah-rempah. Pada hari kedua, Arlinda menyebut pelaku usaha berhasil mengantongi kontrak dagang sebesar US$131,70 juta yang ditandai dengan penandatangan 18 nota kesepahaman.

Pendatanganan nota kesepahaman dilakukan dengan importir dari delapan negara yaitu Amerika Serikat, Belgia, Hongkong, Inggris, Italia, Jerman, Mesir, dan Spanyol. Para importir berminat terhadap produk-produk Indonesia, mulai kopi, keramik, plastik, rempah-rempah, gula kelapa, buah segar, ban, minyak esensial, sabun, gliserin, kacang mete, etanol, furnitur dan kerajinan tangan, plastic lembaran akrilik, makanan olahan, dan benang.

"Dengan ini, total misi pembelian pada hari pertama dan kedua tercatat sejumlah US$5,09 miliar," pungkas Arlinda.
(ulf/agt)