Indonesia Lirik Panama dan Mesir jadi Hub Ekspor

CNN Indonesia | Jumat, 26/10/2018 12:12 WIB
Indonesia Lirik Panama dan Mesir jadi Hub Ekspor Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan Mesir dan Panama berpotensi menjadi titik masuk (hub) bagi produk ekspor Indonesia. Hal ini sesuai dengan target pemerintah, yaitu perluasan ekspor ke negara tujuan ekspor alternatif atau pasar non tradisional.

Enggar menyebut Panama berpotensi menjadi hub produk ekspor Indonesia ke kawasan Amerika Latin dan Karibia. Ia menyatakan Wakil Presiden sekaligus Menteri Luar Negeri Panama Isabel Saint Malo telah menawarkan Panama sebagai hub produk ekspor Indonesia.

Meskipun wilayahnya kecil, Panama memiliki kelebihan kelebihan dari sisi logisitk dan pengiriman. "Mereka ada zona ekonomi khusus, jadi ia (Isabel Saint Malo) menawarkan kirim barang ke Panama dan dengan zona ekonomi khusus itu, baru dari sana kita mengirim ke berbagai negara lain," ujarnya di Indonesia Convention Exhibition, Kamis (25/10).


Panama sendiri telah mengimpor beberapa produk Indonesia salah satunya minyak kelapa sawit dan turunannya. Enggar mengatakan nilai ekspor Indonesia ke Panama terbilang kecil di bawah US$1 miliar.

Untuk itu, pemerintah akan mulai membahas perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) yang dimulai dengan Preferential Trade Agreement (PTA). Untuk diketahui, PTA adalah kesepakatan perdagangan antara dua negara atau lebih untuk menurunkan bea masukproduk-produk tertentu.

"Mereka mengundang kami di awal tahun depan untuk melihat potensi yang ada. Selain itu juga ada pertemuan antar pengusaha dan kerjasama antar Kadin (Kamar Dagang dan Industri)," katanya.


Sementara itu, Mesir berpotensi menjadi hub produk ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah dan Afrika. Sebelumnya, pemerintah juga telah menginisiasi kerja sama dagang dengan negara di kawasan Timur Tengah meliputi Tunisia, Mozambik, dan Maroko.

"Kalau kita lihat potensi pasar Mesir besar sekali, bukan hanya untuk Mesir saja, tetapi kemudian dia sebagai hub untuk masuk ke Afrika dan Timur Tengah," kata Enggar.

Meskipun memiliki hubungan historis cukup dekat, namun kerja sama dagang antara Indonesia-Mesir terbilang kecil. Nilai ekspor Indonesia ke Mesir masih di bawah US$2 miliar per tahun.


Enggar menyatakan, salah satu kendala bagi produk ekspor Indonesia ke Mesir adalah bea masuk tinggi, lantaran Indonesia-Mesir tidak memiliki perjanjian kerja sama dagang. Serupa dengan Panama, pemerintah akan mengupayakan pembentukan FTA yang dimulai dengan PTA.

"Kami harapakan (kesepakatan dagang) bisa selesai tahun depan. Paling lambat awal tahun saya akan lakukan kunjungan ke Mesir. Kalau perjanjian bisa diselesaikan tahun depan, artinya 2020 paling tidak double (nilai ekspor)," terang dia.

Dalam kesempatan yang sama Duta Besar Indonesia untuk Mesir Helmy Fauzi bilang produk-produk Indonesia yang diminati antara lain,kopi, ban, dan minyak sawit beserta turunannya. Bahkan, kopi Indonesia telah menguasai 60 persen pasar impor.


"Ekspor Indonesia ke Mesir tahun lalu mencapai US$1,5 miliar, kita surplus dengan Mesir" jelasnya.

Helmy membenarkan pernyataan Mendag yang menyebut jika tantangan produk ekspor Indonesia ke Mesir adalah soal bea masuk. Tanpa kesepakatan dagang harga produk Indonesia lebih mahal dibandingkan produk negara lain yang memiliki kerja sama.

Di sisi lain, produk Indonesia mendapat sambutan baik di pasar Mesir lantaran kualitasnya bagus. "Jadi yang perlu kita jaga adalah sustainability dari produk dan juga dari segi harga yang kompetitif," ungkap Helmy.


(ulf/bir)