Harga Batu Bara Bikin Laba Bersih Astra Moncer Jadi 21 Persen

CNN Indonesia | Senin, 29/10/2018 15:44 WIB
Harga Batu Bara Bikin Laba Bersih Astra Moncer Jadi 21 Persen PT Astra Internasional Tbk membukukan laba bersih Rp17,07 triliun sampai kuartal III 2018, naik 21 persen dari laba periode yang sama 2017 Rp14,15 triliun. (CNN Indonesia/Laudy Gracivia).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Astra Internasional Tbk membukukan laba bersih Rp17,07 triliun pada sembilan bulan pertama 2018, atau meningkat 21 persen dari laba periode yang sama tahun lalu Rp14,15 triliun.

Sementara itu, laba bersih per saham tercatat Rp422, naik dari semula Rp350. Raupan laba dikontribusi dari pendapatan bersih yang mencapai Rp174,8 triliun, atau meningkat 16 persen dari periode yang sama sebelumnya Rp150,2 triliun.

Secara keseluruhan, laba bersih grup meningkat karena penambahan kontribusi dari segmen bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, segmen jasa keuangan dan segmen otomotif, yang melebihi dari penurunan kontribusi segmen agribisnis.



Perusahaan mengakui pelemahan mata uang rupiah memang menekan marjin bisnis manufaktur grup. Namun, hal itu dapat diimbangi oleh bisnis-bisnis berbasis komoditas grup, aktivitas ekspor serta meningkatnya keuntungan selisih kurs.

"Kami berharap grup akan mencapai kinerja tahunan yang baik, meskipun persaingan yang sengit di pasar mobil serta pelemahan harga minyak kelapa sawit masih tetap diwaspadai," ujar Presiden Direktur Astra Internasional Prijono Sugiarto dalam keterangan tertulis, Senin (29/10).

Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk per September 2018 tercatat Rp132,4 triliun atau meningkat 7 persen dari ekuitas periode Desember 2017 sebesar Rp123,7 triliun. Dengan demikian, Nilai aset bersih per saham Grup tercatat sebesar Rp3.272 meningkat dari Rp3.058.


Dari sisi kas bersih, perseroan mengalami penurunan nilai kas di luar grup anak usaha jasa keuangan, dari semula Rp2,7 triliun pada Desember 2017 menjadi Rp1,7 triliun periode September 2018.

Penyebabnya, ada investasi grup pada bisnis jalan tol dan Go-jek Indonesia, serta belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan.

Secara rinci dipaparkan, divisi bisnis otomotif mengalami pertumbuhan laba bersih sebesar 7 persen dari Rp6,5 triliun menjadi Rp7 triliun.

"Penjualan sepeda motor meningkat, sedangkan penjualan mobil menurun," ungkapnya.


Divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi mengalami lonjakan laba bersih mencapai 60 persen dari Rp3,4 triliun menjadi Rp5,4 triliun. Di sisi lain, divisi agribisnis mengalami penurunan laba 18 persen dari Rp1 triliun menjadi Rp896 miliar.

Disebutkan, kenaikan harga batu bara kembali berkontribusi terhadap pendapatan bisnis alat berat, kontraktor penambangan, dan pertambangan. Di sisi lain, penurunan harga minyak sawit mengakibatkan kinerja agribisnis menurun.

Laba bersih divisi jasa keuangan meningkat 17 persen dari Rp2,9 triliun menjadi Rp3,4 triliun. Laba divisi teknologi informasi meningkat tipis 1 persen dari Rp105 miliar menjadi Rp106 miliar.


Divisi infrastruktur dan logistik membukukan laba Rp112 miliar setelah tahun lalu mengalami rugi bersih Rp66 miliar.
Divisi properti juga mengalami penyusutan keuntungan 32 persen dari Rp97 miliar menjadi Rp66 miliar.

(lav/bir)