LPS: Likuiditas Bank Menengah Paling Ketat

CNN Indonesia | Selasa, 30/10/2018 20:07 WIB
LPS: Likuiditas Bank Menengah Paling Ketat Ilustrasi likuiditas. (REUTERS/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) meyebut kondisi likuiditas bank kelompok modal menengah saat ini paling ketat dibanding kelompok bank lainnya. Kondisi tersebut terutama dialami Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 3 atau bank dengan modal inti Rp5 triliun hingga di bawah 30 triliun.

Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan mengatakan hal ini terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) kelompok bank tersebut yang terus merosot dari bulan ke bulan.

Secara rinci, DPK BUKU 1 atau bank bermodal di bawah Rp1 triliun turun dari 10,6 persen pada September 2017 menjadi 2,2 persen pada September 2018. Kemudian, DPK BUKU 2 atau bank bermodal Rp1 triliun hingga di bawah Rp5 triliun anjlok dari 13,2 persen menjadi 3,1 persen.


Lalu, BUKU 3 dari 9,9 persen menjadi 2,9 persen, sedangkan BUKU 4 atau bank modal di atas Rp5 triliun turun dari 18,6 persen menjadi 9,9 persen. Sementara secara keseluruhan, pertumbuhan DPK perbankan berada di kisaran 6,66 persen pada September 2018.

"DPK turun karena efek berakhirnya program tax amnesty dan perebutan dana di pasar obligasi," ucapnya di kantor LPS, Selasa (30/10).

Lebih lanjut, pengetatan likuiditas juga tercermin dari meningkatnya rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR). Secara industri, LPS mencatat LDR bank berada di kisaran 94 persen pada September 2018.


Sementara secara BUKU, LDR BUKU 1 naik dari 75,4 persen pada September 2017 menjadi 84,61 persen pada September 2018. Kenaikan LDR juga terjadi pada BUKU 3 dari 94,9 persen menjadi 103,3 persen. Namun, LDR BUKU 1 justru turun dari 89,6 persen menjadi 84,6 persen dan BUKU 4 dari 90,4 persen menjadi 80,9 persen.

Anggota Dewan Komisioner LPS Destry Damayanti mengatakan tingkat LDR bank secara industri sejatinya sudah masuk status waspada. Sebab, batas aman LDR bank seharusnya di kisaran 92 persen. Untuk itu, para otoritas terkait dan para pelaku bank perlu lebih berhati-hati dalam menyaluran kredit dan menjaga tingkat LDR.

"Ini harus diperhatikan secara serius, karena yang ditakutkan adalah sebelum akhirnya mengenai modal, masalah yang utama adalah likuiditas. Meski, kami perkirakan LDR sampai akhir tahun di kisaran 93-94 persen," katanya.

Menurutnya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan bank untuk menjaga LDR dan pertumbuhan DPK. Pertama, meninjau kembali porsi penyaluran kredit. Kedua, mencari sumber pendanaan baru untuk menutup kebutuhan likuiditas.

Sementara, PT Bank Bukopin Tbk yang masuk kelompok BUKU 3 mengaku perusahaan turut merasakan tren pengetatan likuiditas akibat terbatasnya pertumbuhan deposito.


Direktur Utama Bank Bukopin Eko Rachmansyah Gindo menilai hal ini karena tren instrumen investasi di Indonesia terus meningkat dari waktu ke waktu, sehingga memberikan pilihan kepada masyarakat untuk menanamkan dana yang dimilikinya.

"Saat ini ada reksadana, unitlink, pasar modal, itu semua ada imbal hasil yang menarik untuk investasi. Sehingga deposito kami turun, meski dari sisi tabungan dan giro sebenarnya masih tumbuh, sehingga DPK secara keseluruhan tetap baik," jelasnya.

Meski begitu, Eko memastikan sedikit perlambatan dari DPK tak membuat LDR Bank Bukopin melesat tinggi. Ia bilang, LDR saat ini berada di kisaran 86 persen. "Ini masih longgar karena target kami sampai akhir tahun 88-89 persen," ungkapnya.

Bahkan pada tahun-tahun berikutnya pun, ia meyakini likuiditas tidak akan terus menerus mengetat. Sebab, masih ada potensi DPK bertumbuh. Hal ini karena bank juga terus melakukan penyesuaian bunga deposito sebagai respons dari kenaikan bunga acuan BI.

Saat ini, bunga deposito Bank Bukopin secara rata-rata sudah naik 150 basis poin (bps) sejalan dengan kenaikan bunga acuan BI (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR).


"Tapi secara rata-rata cost of fund kami baru naik 75 bps," tuturnya.

Senada, PT Bank Mayapada International Tbk yang juga berada di kelas BUKU 3 juga mengaku sudah mulai merasakan tren pengetatan likuiditas.

Direktur Utama Bank Mayapada Hariyono Tjahjarijadi mengatakan hal ini karena ada persaingan dana antara bank dengan pihak pemerintah dan swasta yang turut mencari dana dengan menerbitkan surat utang atau obligasi.

"Nasabah jadi punya pilihan untuk menempatkan dananya baik diversifikasi maupun mencari yield yang lebih tinggi dari bunga deposito," kata Hariyono kepada CNNIndonesia.com.

Meski begitu, ia bilang, bank memang terus fokus menjaga likuiditas ke depan, misalnya dengan menjaga kisaran LDR. Saat ini LDR Bank Mayapada sekitar 86-88 persen. Sementara bunga deposito telah dinaikkan mencapai 150 bps guna menjaga daya tarik deposito. (uli/agi)