"Kalau kita lihat tren suku bunga pasar memang masih terus naik," kata Anggota Dewan Komisioner LPS Destry Damayanti di Jakarta, Selasa (23/10).
Destry menjelaskan transmisi kenaikan suku bunga acuan oleh perbankan belum tuntas. Sebagai catatan, bank sentral telah mengerek suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 150 basis poin (bps) sejak awal tahun menjadi 5,75 persen mengikuti tren kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika The Federal Reserve.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,75% |
"Apa yang dilakukan oleh BI sebelumnya menaikkan suku bunga 150 bps, belum seluruhnya ter-absorb oleh bank," ujarnya.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaparkan pertumbuhan penyaluran kredit pada Agustus 2018 mencapai 12,12 persen secara tahunan, dari Rp4.527 triliun menjadi Rp5.084 triliun.
Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) hanya tumbuh 6,87 persen secara tahunan dari sebelumnya Rp5.052 triliun menjadi Rp5.399 triliun.
"Jadi pasti ada beberapa bank yang butuh likuiditas, itu pasti akan mendorong bunga naik,"kata Destry.
Destry mengatakan faktor eksternal prediksi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve juga mendorong tren kenaikan suku bunga perbankan. The Fed diyakini masih akan menaikkan suku bunga acuannya satu kali lagi pada akhir tahun ini sebesar 25 bps.
"Jadi ekspektasi dari pelaku bisnis, bunga masih akan terus naik, likuditas global juga masih akan terbatas," kata Destry.
Sebagai informasi, selain mempertahankan suku bunga acuan, bank sentral juga menetapkan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility masing-masing berada di level 5,0 persen dan 6,5 persen. (ulf/lav)