Bank Pembangunan Daerah Antisipasi Pengetatan Likuiditas

CNN Indonesia | Jumat, 26/10/2018 15:47 WIB
Bank Pembangunan Daerah Antisipasi Pengetatan Likuiditas Ilustrasi. (cnnindonesia/safirmakki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Pembangunan Daerah (BPD) mengantisipasi mengetatnya likuditas jelang akhir tahun ini. Ketua Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Kresno Sediarsi memperkirakan rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) di akhir tahun bisa menembus 90 persen atau meningkat dari data terakhir yang berada di kisaran 80 hingga 90 persen.

Kresno mengungkapkan sejak dua tahun lalu Asbanda telah rutin melakukan pertemuan untuk mengantisipasi pengetatan likuiditas di akhir tahun. Dalam pertemuan tersebut, masing-masing anggota membeberkan ketersediaan dananya.

Anggota yang memiliki kelebihan dana dikumpulkan dalam satu wadah (pool). Dana tersebut akan digunakan untuk membantu anggota lain yang membutuhkan pendanaan.
"Di antar BPD sendiri ada yang posisinya berlebih ada yang kurang. Kalau bisa kami saling berbagi dulu baru nanti kalau kurang atau lebih masuk ke pasar," ujar Kresno di Gedung Bursa Saham Indonesia (BEI), Jumat (26/10).


Tahun lalu, Kresno menyebutkan, dana berlebih yang terkumpul mencapai Rp3,4 triliun. Tahun ini, ia berharap ketersediaan dana berlebih tersebut tidak berkurang dibanding tahun lalu.

"Tahun ini, untuk persiapan, pertemuan baru mau dilaksanakan di Bukittinggi tanggal 16 (16 November 2018)," ujarnya.

Di PT Bank Pembangunan Daerah Khusus Ibu kota Jakarta (Bank DKI), perusahaan di mana Kresno menjabat sebagai Direktur Utama, kondisi likuiditas masih relatif mencukupi. Per September 2018, LDR Bank DKI ada di kisaran 82 persen meningkat dari posisi bulan sebelumnya 78 persen.

Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Tbk (BJB) Muhammad Asadi Budiman mengungkapkan mengetatnya likuditas BPD di akhir tahun merupakan siklus tahunan. "Di akhir tahun biasanya ketat karena beberapa pihak menarik dananya, khususnya pemerintah daerah untuk pembiayaan proyek,"ujarnya.
Selain itu, pengetatan likuiditas juga dipengaruhi kebijakan Bank Sentral AS The Fed. Tahun ini, The Federal Reserves diperkirakan masih akan mengerek suku bunga satu kali lagi.

Kebijakan tersebut diperkirakan akan mempengaruhi likuiditas di pasar. Per September 2018, Asadi menyebutkan LDR BJB terjaga di kisaran 88 hingga 89 persen sesuai dengan ekspansi kredit perusahaan yang mencapai Rp78,26 triliun.

Di akhir tahun, perusahaan menargetkan LDR bisa dijaga di kisaran 90 hingga 92 persen dengan kredit bisa tumbuh di kisaran 8 persen secara tahunan. Untuk itu, perusahaan telah mengantipasi dengan mendiversifikasi pendanaan.

Salah satunya, melalui penerbitan surat utang yang mulai dilakukan bulan lalu maupun sertifikat deposito. "Kami sangat memahami tekanan likuiditas sejak Juni sampai September dirasakan sangat bertubi-tubi. Oktober kami merasakan tekanan tetapi tidak sebesar kemarin waktu Agustus, September yang jauh lebih besar. Sekarang, lebih stabil," ujarnya.
(sfr/agt)


BACA JUGA