Harga Minyak Sawit Tekan Laba Indofood 13,5 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 31/10/2018 23:45 WIB
Harga Minyak Sawit Tekan Laba Indofood 13,5 Persen PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mengalami penurunan laba bersih pada kuartal III 2018 sebesar 13,56 persen dari Rp3,26 triliun menjadi Rp2,81 triliun. (Dok. indofood.com).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan barang konsumsi PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mengalami penurunan laba bersih pada kuartal III 2018 sebesar 13,56 persen dari Rp3,26 triliun menjadi Rp2,81 triliun.

Mengutip dari laporan keuangan perseroan, meski penjualan INDF tumbuh tipis 3,05 persen dari Rp53,12 triliun menjadi Rp54,74 triliun, namun beban pokok penjualan yang membengkak 3,62 persen menjadi Rp39,27 triliun turut menggerus perolehan laba.

Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood Anthoni Salim mengatakan harga minyak kelapa sawit (CPO) mempengaruhi beban kinerja perseroan. Maklum, karena salah satu produk-produk unggulannya adalah minyak goreng yang bahan bakunya minyak kelapa sawit.


"Secara umum, harga CPO tetap menjadi tantangan bagi kinerja kami," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (31/10).


Jika dirinci, beban penjualan dan distribusi naik menjadi Rp6,16 trilun dari sebelumnya Rp5,84 triliun. Tidak hanya itu, beban administrasi umum juga meningkat dari Rp3,04 triliun menjadi Rp3,43 triliun.

INDF juga mencatat kenaikan beban keuangan dari Rp1,09 triliun menjadi Rp1,88 triliun.

Kendati demikian, capaian kurang cemerlang dari Indofood Sukses Makmur, mampu ditutupi oleh kinerja PT Indofood CBP Tbk (Tbk). Lini bisnis makanan dan minuman kemasan Indofood ini mampu membukukan kenaikan laba sebesar 14,57 persen dari Rp3,04 triliun menjadi Rp3,48 triliun.

Peningkatan laba bersih ditopang kenaikan penjualan sebesar 7,46 persen menjadi Rp29,47 triliun dari sebelumnya Rp27,43 triliun.


Kendati demikian, dalam ikhtisar keuangan perseroan terpantau peningkatan beban pokok penjualan meningkat 5,8 persen dari Rp18,79 triliun menjadi Rp19,88 triliun.

Jika dirinci, beban penjualan dan distribusi naik menjadi Rp3,59 triliun dari sebelumnya Rp3,40 triliun. ICBP juga mengalami pertambahan beban umum dan administrasi dari Rp1,22 triliun menjadi Rp1,49 triliun. Beban keuangan juga meningkat menjadi Rp187,463 miliar dari sebelumnya Rp117,656 miliar.

Anthoni mengatakan perseroan akan fokus memperkuat posisi perseroan di pasar di tengah persaingan yang makin ketat.

Soal kinerja keuangan itu, Analis PT Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo mengatakan tren pelemahan harga CPO mempengaruhi kinerja keuangan INDF. Harga CPO kontrak Oktober 2018 di Bursa Derivatif Malaysia berada di posisi MRY2.169 per ton pada perdagangan hari ini, Rabu (31/10) dari hari sebelumnya MRY2.187 per ton.

Namun demikian, Lucky masih merekomendasikan beli untuk saham INDF.


"Saham INDF cenderung menguat untuk menguji level harga Rp6.500 dalam jangka pendek hingga menengah," ujarnya.

Dalam pantauannya, tren harga INDF cenderung menguat setelah mengalami pelemahan sejak Mei 2018. Pada penutupan perdagangan hari ini saham INDF menguat 275 poin atau 4,82 persen ke posisi Rp5.975.

Lucky juga merekomendasikan beli untuk saham ICBP. Kenaikan laba perseroan pada sembilan bulan ini menjadi sentiment positif di pasar.

"Rekomendasi beli ICBP dengan target harga Rp9.150," kata Lucky. (ulf/lav)