Kondisi Ekonomi 'Tampang Boyolali' Guyonan Capres Prabowo

CNN Indonesia | Sabtu, 03/11/2018 13:17 WIB
Kondisi Ekonomi 'Tampang Boyolali' Guyonan Capres Prabowo Calon Presiden Prabowo Subianto. (Dok. Tim Prabowo Subianto).
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon Presiden Prabowo Subianto dilaporkan seorang warga Boyolali bernama Dakun (47 tahun) kadena merasa tersinggung dan terhina atas ucapan Calon Presiden Prabowo soal 'tampang Boyolali'.

Dalam pidatonya saat kampanye di depan peserta yang hadir di acara peresmian Kantor Badan Pemenangan Prabowo-Sandi di Boyolali, Jawa Tengah, Prabowo melontarkan candaan bahwa 'Tampang Boyolali' mungkin tak pernah memasuki hotel mewah di Jakarta.

"Kalian kalau masuk mungkin kalian diusir karena tampang kalian tidak tampang orang kaya. Tampang kalian, ya, tampang-tampang Boyolali ini," Prabowo mengatakan diiringi tawa hadirin.


Saat itu, konteks pidato Prabowo terkait dengan kemiskinan di Indonesia. Namun bagaimana sebenarnya gambaran perekonomian di daerah tersebut?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Boyolali didorong oleh lima kategori lapangan usaha, di antaranya industri pengolahan, pertanian, kehutanan, konstruksi dan jasa, perdagangan besar dan eceran.

Pada tahun lalu, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Boyolali tercatat sebesar Rp20,17 triliun. Angka ini naik dari Rp19,11 triliun.


Sementara PDRB per kapita atau pendapatan per penduduk Boyolali pada 2017 mencapai Rp29,4 juta atau sekitar Rp2,5 juta per bulan. Angka ini memang lebih rendah dibanding rata-rata pendapatan penduduk per kapita yang mencapai Rp51,89 juta atau Rp4,32 juta per bulan.

Boyolali merupakan salah satu daerah produsen susu terbesar. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Boyolali pada 2013, jumlah sapi perah di wilayah tersebut sebanyak 88.430 ekor dengan produksi susu 46.96 juta liter per tahun atau rata-rata per hari 130.296 liter.

Produksi susu di daerah ini juga di olah menjadi produk lainnya, seperti yogurt, keju, dodol susu, hingga sabun susu. Jumlah produksi 10.24 juta kg per tahun dengan cakupan pemasaran hingga Jakarta dan Surabaya.


(agi/bir)