The Fed 'Pede' Perang Dagang Tak akan Rusak Ekonomi AS

Dinda Audriene & Tim, CNN Indonesia | Kamis, 11/10/2018 09:40 WIB
The Fed 'Pede' Perang Dagang Tak akan Rusak Ekonomi AS The Fed memperkirakan suku bunga acuan masih berpotensi naik dalam beberapa waktu mendatang di Bali, Rabu (10/10). (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah)
Nusa Dua, CNN Indonesia -- Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed tetap yakin dan percaya diri, perang dagang tidak akan merusak ekonomi dalam negeri mereka. Keyakinan tersebut mereka dasarkan pada fundamental ekonomi dalam negeri AS.

Presiden dan Chief of Executive Officer The Fed New York John C Williams mengatakan sampai saat ini fundamental ekonomi dalam negeri AS masih cukup baik. Penetapan tarif impor atas sejumlah produk asal China juga belum berdampak pada peningkatan inflasi di AS.

"Kalau dari data terbaru, terlihat tidak ada pengaruh kebijakan tersebut terhadap inflasi dan tenaga kerja," katanya di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10).


Dengan kondisi tersebut Williams berkeyakinan ekonomi AS pada tahun ini masih bisa tumbuh 3 persen dan 2,5 persen pada 2019 mendatang. Selain itu, ia juga yakin ke depan ekonomi AS akan tumbuh baik. 
Tahun depan, ia memperkirakan tingkat pengangguran 2019 bisa di bawah 3,5 persen. 

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam Proyeksi Ekonomi Dunia terbaru mereka memperkirakan perang dagang yang berkecamuk antara AS dengan China bakal berdampak pada pertumbuhan ekonomi global, AS dan China. Untuk AS, mereka memproyeksikan perang dagang akan membuat pertumbuhan ekonomi AS 2019 hanya 2,5 persen, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang masih bisa mencapai 2,7 persen.

Untuk China, perang dagang mereka proyeksikan akan membuat pertumbuhan mereka pada 2019 nanti hanya 6,2 persen lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang diproyeksikan masih bisa mencapai 6,4 persen.

Sementara dari sisi global, perang dagang diperkirakan akan membuat pertumbuhan 2019 hanya berada di kisaran 3,7 persen atau lebih rendah dari proyeksi Juli yang masih bisa mencapai 3,9 persen.

William tak menampik dampak tersebut. Dampak tersebut menurutnya juga akan mempengaruhi niat investor dalam berinvestasi dan jumlah lapangan kerja.
"Saya dengar ada pandangan perang dagang menimbulkan ketidakpastian, tapi sekali lagi saya melihat dari data yang ada, dampak tidak signifikan," jelas Williams.

Dari sisi Indonesia, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo juga tak melihat dampak yang signifikan pada ekonomi Indonesia akibat perang dagang AS dengan China. Keyakinan ia dasarkan pada ekspor ke China yang sejauh ini tak terganggu.

"Ekspor manufaktur justru meningkat ke China," ujar Perry.

Namun, satu hal yang menjadi perhatian bank sentral Indonesia, yakni banjirnya impor produk dari China. Sebab, China tentu akan mencari negara yang menetapkan tarif masuk lebih murah dibandingkan AS.
(agt)