Rencana Dua KEK Pariwisata di Babel Terganjal Pertambangan

CNN Indonesia | Senin, 05/11/2018 15:17 WIB
Kawasan Tanjung Gunung dan Sungai Liat di Pulau Bangka yang diajukan Pemda sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata masih terganjal operasional tambang. Ilustrasi Pulau Bangka. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Daerah (Pemda) Bangka Belitung menyebut rencana pembangunan dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di sektor pariwisata di provinsi tersebut masih terganjal operasional tambang. Kedua KEK tersebut, yakni kawasan Tanjung Gunung dan Sungai Liat yang terletak di Pulau Bangka.

Pengajuan tambahan kedua KEK tersebut dilakukan sejak tahun lalu. Saat in baru satu wilayah di provinsi tersebut yang mengantongi status KEK, yakni Tanjung Kelayang yang berada di Pulau Belitung.

Gubernur Babel Elzadi Rosman Djohan menjelaskan kedua kawasan yang tengah diajukan sebagai KEK tersebut masih digunakan sebagai kawasan tambang. Namun, ia meyebut lebih memilih agar kedua kawasan tersebut dikembangkan untuk sektor pariwisata dibanding pertambangan.


"Tambang harus direlokasi. Kalau potensinya kecil untuk apa jadi zonasi tambang," ujar Elzadi usai Rapat Koordinasi di Kantor Menko Perekonomian, Senin (5/11).


Menurut Elzadi, pihaknya sudah melalukan upaya transformasi kawasan tersebut sejak tahun lalu. Selain lebih ramah lingkungan, pengembangan pariwisata juga bisa mendongkrak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi setempat.

Hal itu, menurut dia, telah terbukti pengembangan KEK Tanjung Kelayang yang telah mendongkrak Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Belitung sebesar 43,7 persen menjadi hampir Rp200 miliar pada 2017.

Dengan penambahan KEK, pemda juga bisa memaksimalkan potensi ratusan pulau di Babel yang belum dieksplorasi. Saat ini, dari 555 pulau, baru 50 pulau yang dihuni.

"Untuk mengeksplorasi 555 pulau ini kalau tidak ada kekuatan khusus, penyataan khusus, kebijakan khusus kami tidak kuat," jelasnya.


Elzadi menjelaskan Tanjung Gunung yang terletak di Bangka Tengah, sekitar tujuh kilometer (km) dari Bandara Depati Amir cocok untuk wisata (Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran/ MICE). Untuk tahap pertama selama tiga tahun, pemda sebenarnya telah mengantongi komitmen investasi sebesar Rp500 miliar.

Sementara, Pantai Timur Sungai Liat yang terletak sekitar 40 km dari Bandara Depati Amir sesuai untuk wisata olah raga. Pemda juga telah mengantongi komitmen investasi sebesar Rp230 miliar untuk tahun pertama hingga ketiga. Disebutkan Erzaldi, investor yang berminat salah satunya grup hotel Holiday Inn.

"Itu baru tahap pertama. Semuanya ada empat tahap. Kurang lebih, untuk satu kawasan (investasi) hampir Rp1,7 triliun dalam tempo kurang lebih 10 tahun," jelasnya.

Untuk memaksimalkan potensi wisata di kedua daerah, pemda pun siap memperbaiki jalan dan fasilitas air bersih. "Untuk jalan provinsi dinaikkan ke jalan nasional. Untuk jalan kabupaten dinaikkan ke jalan provinsi. Kapasitas debit air bersih juga dinaikkan," kata dia.


Kendati demikian, pihaknya butuh memastikan kedua kawasan tersebut tak lagi digunakan sebagai kawasan tambang. Ia khawatir, jika harga komoditas tambang meningkat, kawasan yang nantinya sudah difokuskan untuk sektor pariwisata kembali menjadi kawasan tambang.

"Kalau (nanti) pilih KEK pariwisata ya jangan tambang lagi. Jangan nanti sudah ditetapkan KEK Pariwisata begitu harga timah naik, daerah pariwisata digali lagi," tegasnya.

Rencananya, pemerintah pusat dan pemda akan menggelar rapat terkait penetapan dua KEK tersebut sekali lagi dalam tempo sebulan ke depan. Dalam rapat tersebut nantinya akan diputuskan mengenai kepastian penetapan dua KEK Pariwisata tersebut di Bangka setelah berkoordinasi dengan perusahaan tambang yang beroperasi, salah satunya PT Timah, serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Mudah-mudahan ada suatu keputusan yang baik dalam hal pengajuan KEK Pariwisata ini," pungkasnya. (sfr/agi)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK