Kerek Harga Sawit, RI Bakal 'Rayu' Malaysia Terapkan B20

CNN Indonesia | Senin, 05/11/2018 19:01 WIB
Kerek Harga Sawit, RI Bakal 'Rayu' Malaysia Terapkan B20 Ilustrasi produk sawit. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mendorong Malaysia ikut menerapkan kebijakan mandatori campuran biodiesel ke minyak sawit sebesar 20 persen (B20) seperti Indonesia. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan permintaan serta mengerek harga sawit.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan isu penerapan B20 tersebut akan dibawa Indonesia dalam pertemuan tingkat menteri Dewan Negara Produsen Kelapa Sawit (CPOPC) di Malaysia, esok hari, Selasa (6/11). Sebagai catatan, CPOPC hanya beranggotakan dua negara yaitu Malaysia dan Indonesia.

"Posisi biodiesel mereka (Malaysia) masih 7,5 persen. Padahal, dalam perjanjian mereka, biodiesel 10 persen itu sudah diamanatkan di 2018 ini sehingga untuk tahun depan kami dorong mereka ikut Indonesia untuk B20," ujar Airlangga usai menghadir rapat koordinasi di Kantor Kementerian Bidang Perekonomian, Senin (5/11).


Airlangga mengungkapkan selain isu yang bersifat bersama, kedua negara juga akan membahas isu bilateral masing-masing negara. Misalnya, Malaysia memiliki kebijakan bilateral dengan India terkait panen awal (early harvest) akibatnya bea masuk untuk produk CPO Malaysia ke India lebih murah sekitar empat persen dibandingkan Indonesia. Hal itu merugikan daya saing produk Indonesia dalam perdagangan.


"Itu yang membuat posisi Indonesia dan Malaysia berbeda," ujarnya.

Selain membahas tentang perkembangan pasar sawit dunia, kedua negara juga akan membahas mengenai pengajuan keanggotaan CPOPC Kolombia.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan menambahkan penerapan mandatori B20 oleh Malaysia juga bisa membantu produsen sawit dalam melawan kampanye hitam terhadap produk sawit.

"Ini skenario untuk memerangi serangan terhadap sawit. Kami, dua negara ini, harus menunjukkan kepada mereka (negara yang memerangi sawit) bahwa kalau mereka tidak membutuhkan kami juga ada penyaluran," ujarnya.


Secara terpisah, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengungkapkan harga minyak sawit akan terdongkrak jika pasokan minyak sawit menurun atau permintaan minyak sawit meningkat. Penerapan B20 oleh Malaysia akan membantu dari sisi mendongkrak penyerapan CPO.

"Dengan B20, Indonesia serapannya (CPO) sudah meningkat. Diharapkan, Malaysia juga dapat mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan persentasenya," ujarnya.

Berdasarkan catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), rata-rata harga sawit dunia sepanjang Agustus 2018 hanya US$577,5 per metrik ton dan bergerak di kisaran US$542,5 hingga US$577,5 per metrik ton. Rata-rata harga tersebut merupakan yang terendah sejak Januari 2016. Tertekannya harga sawit tak lepas dari tren penurunan harga minyak nabati lain seperti kedelai dan melimpahnya stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia. (sfr/agi)