BI: Pertemuan Trump-Xi Jinping Penentu Kebijakan Bank Sentral

CNN Indonesia | Rabu, 07/11/2018 10:23 WIB
BI: Pertemuan Trump-Xi Jinping Penentu Kebijakan Bank Sentral Presiden AS Donald Trump. (REUTERS/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menilai kebijakan bank sentral berbagai negara di dunia ke depan sangat bergantung pada hasil pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan hal ini karena asumsi perekonomian dan kebijakan masing-masing bank sentral sebelumnya sudah memperhitungkan dampak dari perang dagang AS-China bila terus berlanjut. Namun, pimpinan kedua negara tersebut justru memberi sinyal damai.

Keduanya bahkan dijadwalkan kembali bertemu di Argentina pada akhir November mendatang.



"Kami lihat dulu outlook global seperti apa, apakah tekanan perdagangan itu akan semakin tinggi atau hasil pertemuan itu konteksnya lebih positif? Jadi nanti akan pengaruhi negara-negara lain dalam mengambil posisi juga. Ini sangat dinamis dari waktu ke waktu," ujar Dody di forum diskusi di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (6/11).

Meski dipengaruhi hasil pertemuan Trump-Xi Jinping, kebijakan BI juga akan memperhitungkan sentimen-sentimen lainnya.

"Jadi arah kebijakan kami sendiri, apakah kami akan mengubah posisi dari suku bunga? Itu sangat tergantung pada data. Kami belum bisa bilang suku bunga akan naik atau turun atau tetap, tapi tergantung perkembangan ke depan," jelasnya.


Saat ini, menurut dia, sejumlah bank sentral kemungkinan akan menaikkan bunga acuannya. Hal ini merupakan bentuk repsons dari kenaikan bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve, yang telah berlangsung sepanjang tahun ini.

The Fed diperkirakan masih akan mengerek bunga acuannya sekitar 2-3 kali lagi pada tahun depan. Kondisi ini, menurut Dody, sudah pasti bakal direspons para bank sentral negara lain, terutama negara-negara yang sejajar dengan Indonesia secara fundamental (peers) dengan kenaikan bunga.

"Peers akan memasang suku bunga tinggi, berusaha menarik aliran modal. Tinggal bagaimana kami bisa men-track suku bunga yang lebih menarik dari peers, demi menjaga diferesnsial suku bunga agar inflow terjadi," pungkasnya. (uli/agi)