JK Akui Tarif Cukai Rokok Tak Naik demi Stabilitas Pemilu

CNN Indonesia | Rabu, 07/11/2018 11:30 WIB
JK Akui Tarif Cukai Rokok Tak Naik demi Stabilitas Pemilu Wakil Presiden Jusuf Kalla tak menampik tarif Cukai Hasil Tembakau yang tidak naik tahun depan dilakukan demi menjaga stabilitas menjelang momentum Pemilu 2019. (Dok. Istana Wakil Presiden).
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tak menampik tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang tidak naik tahun depan dilakukan demi menjaga stabilitas menjelang momentum Pemilihan Umum 2019.

"Jelang Pemilu kita harus menjaga stabilitas, karena hampir boleh dibilang pemerintah siapapun ya hampir tidak pernah menaikkan sesuatu enam bulan sebelum pemilu," ujar JK di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (6/11).

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan CHT tidak akan naik tahun depan. Padahal cukai rokok biasanya akan naik sekitar 10 persen setiap tahun.



Selain CHT, kata JK, tarif kebutuhan rumah tangga lain juga tidak akan naik menjelang Pemilu. "BBM tidak naik, listrik tidak naik, pajak tidak naik, jadi memang ndak ada pergerakan supaya jangan ribut masyarakat," terangnya.

Tahun ini, CHT naik sekitar 10,04 persen dibandingkan 2017 dengan rincian kenaikan Sigaret Kretek Mesin (SKM) 10,9 persen, dan Sigaret Putih Mesin (SPM) 13,5 persen. Sementara itu, kenaikan tarif untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT) ditetapkan hanya 7,3 persen.

Sebagai informasi, pemerintah membuat peta jalan atau Roadmap Penyederhanaan Struktur Tarif CHT. Mengutip laman resmi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Roadmap penyederhanaan struktur tarif cukai ditetapkan selama periode 2018- 2021.


Dalam periode itu, skenario penyederhanaan berturut-turut menjadi 10, 8, 6, dan 5 layer. Penyederhanaan struktur tarif cukai diharapkan mengurangi modus pelanggaran pemberlakuan tarif cukai. (pris/lav)