Ekonom Ramal BI Bakal Kerek Bunga Acuan Lagi Tahun Ini

CNN Indonesia | Kamis, 08/11/2018 16:09 WIB
Ekonom Ramal BI Bakal Kerek Bunga Acuan Lagi Tahun Ini Logo Bank Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) diprediksi akan kembali menaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 6 persen. Kenaikan tersebut seiring dengan rencana Bank Sentral AS, The Federal Reserve (Fed) yang bakal kembali menyesuaikan bunga acuan sebelum akhir tahun ini.

Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto menjelaskan dalam rapat terakhir yang digelar Fed, ia melihat ada kecenderungan bank sentral tersebut menaikkan tingkat bunga. Kondisi ini memaksa bank sentral di negara-negara berkembang melakukan penyesuaian.

"Di 23 Oktober lalu, BI menahan suku bunga acuannya di 5,75 persen. Tapi, sepertinya ada kans untuk menaikan 25 bps menjadi 6 persen. Bulan Desember nanti, The Fed hampir pasti



Menurut Ryan, Fed perlu melakukan kenaikan bunga lantaran laju inflasi AS meningkat tajam. Tingkat inflasi yang mencapai 2 persen saat ini, dinilai sudah cukup berbahaya bagi negara maju, seperti Amerika Serikat.

"Upaya penjinakan inflasi adalah dengan menaikan suku bunga, inflasi di Amerika sudah 2 persen. Itu angka keramat," imbuhnya.

Selain berdampak pada perubahan suku bunga negara-negara berkembang, kenaikan ini juga berdampak pada nilai tukar rupiah dan pertumbuhan ekonomi. Rupiah sempat terdepresiasi hingga di atas 10 persen sepanjang tahun ini, meski kini tengah bergerak menguat.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal III 2018 tercatat hanya sebesar 5,17 persen. Kondisi ini, menurut dia, antara lain, disebabkan melemahnya nilai ekspor akibat turunnya harga sejumlah komoditas akibat kenaikan suku bunga di sejumlah negara.


Ia menjelaskan harga komoditas antara lain dipengaruhi penguatan dolar AS akibat rencana kenaikan bunga Fed. Akibatnya, ekonomi Indonesia yang bertumpu pada komoditas terganggu.

"Karena ekspornya enggak nendang, di sisi lain impornya masih cukup kuat. Ini yang berdampak kepada nilai pertumbuhan ekonomi kita di kuartal III yang cuma 5,17 persen," jelasnya.

Sebagai informasi, neraca perdagangan Indonesia dari Januari hingga September 2018 ini masih mengalami defisit hingga US$3,78 miliar. Meskipun pada September lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa Indonesia akhirnya mengalami surplus US$0,23 miliar setelah beberapa bulan terakhir terus mengalami defisit.

Di sisi lain, Ia mencermati bahwa kegiatan impor di Indonesia masih relatif kuat karena tingginya permintaan barang-barang di dalam negeri. Hal itu terjadi karena daya beli masyarakat yang masih dapat terjaga.

"Jika konsumsi rumah tangga itu tumbuh sampai 5 persen, artinya menunjukkan daya beli masyarakat terjaga dengan baik. Bagi rakyat miskin, mereka banyak dibantu dengan Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sosial lainnya," terangnya.


Ia memprediksi, tahun depan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat berada dalam kisaran 5,2-5,3 persen. Salah satu yang patut dicermati adalah perlambatan ekonomi China sebagai mitra dagang utama Indonesia dalam hal ekspor maupun impor.

"Setiap perlambatan 1 persen ekonomi Tiongkok, itu akan mempengaruhi perlambatan ekonomi mitranya 0,02 persen. Penting pemerintah untuk mencari pasar-pasar perdagangan lain, misalnya ke daerah Timur Tengah," tutupnya. (mjs/lav)