Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.651 per dolar AS atau menguat dari kemarin sore di Rp14.764 per dolar AS.
Di kawasan Asia, rupiah menjadi mata uang dengan penguatan tertinggi nomor dua, setelah won Korea Selatan yang menguat hingga 0,59 persen. Setelah itu, peso Filipina mengekor dengan menguat 0,25 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, rupee India 0,17 persen, dolar Hong Kong 0,06 persen, dan dolar Singapura 0,04 persen. Sementara, ringgit Malaysia melemah 0,01 persen, renminbi China minus 0,18 persen, yen Jepang minus 0,18 persen, dan baht Thailand minus 0,24 persen.
Di sisi lain, mata uang utama negara maju bergerak bervariasi. Euro Eropa minus 0,08 prsen, rubel Rusia minus 0,04 persen, franc Swiss minus 0,04 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,03 persen. Hanya dolar Australia dan dolar Kanada yang menguat, masing-masing 0,12 persen dan 0,11 persen.
"Artinya, pemberlakuan tarif impor AS tidak berpengaruh, meski tetap bisa menjadi ancaman karena data ini nantinya akan diperhatikan oleh AS," ujar Dini kepada CNNIndonesia.com, Kamis (8/11).
Menurutnya, sentimen ini setidaknya bisa sedikit menawarkan sentimen lain yang seharusnya menguatkan mata uang Negeri Paman Sam, yaitu bank sentral AS, The Federal Reserve yang akan menyampikan pengumuman.
"Penguatan rupiah hari ini mengambil kesempatan ini, karena kemungkinan volatilitas rupiah akan terjadi besok (usai The Fed memberikan pengumuman)," pungkasnya. (uli/lav)