Infrastruktur Jokowi Tambah Pundi Emiten BUMN Konstruksi

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 13:23 WIB
Total laba bersih emiten BUMN konstruksi hingga kuartal III 2018 mencapai Rp4,9 triliun, tumbuh 30,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ilustrasi. (REUTERS/Willy Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) konstruksi yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat laba bersih sampai kuartal III 2018 sebesar Rp4,93 triliun atau tumbuh 30,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Keempat BUMN konstruksi itu meliputi PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI).

Kepala Riset Koneksi Kapital Sekuritas Alfred Nainggolan mengatakan kenaikan total laba bersih emiten BUMN konstruksi terbilang cukup tinggi. Raihannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan capaian emiten BUMN sektor perbankan yang hanya 15 persen.


"Tapi kalau untuk ekspektasi pasarnya beda-beda per emiten, ada yang sesuai dengan ekspektasi pasar ada yang di bawah ekspektasi," tutur Alfred kepada CNNIndonesia.com, Selasa (13/11).


Waskita Karya dan Wijaya Karya misalnya, Alfred menilai kenaikan kinerja keuangan keduanya baik dari sisi pendapatan dan laba bersih sesuai dengan ekspektasi pasar. Sementara, kinerja PTPP berada di bawah ekspektasi pasar. 

"Lalu kalau PTPP itu di bawah ekspektasi pasar karena laba bersihnya turun," imbuh Alfred.

Hanya Adhi Karya yang disebut Alfred kinerjanya di atas ekspektasi pasar. Bila dibandingkan tiga emiten sebelumnya, pertumbuhan laba bersih Adhi Karya memang paling tinggi, yakni mencapai 63,61 persen.

"Faktor kenaikan jumlah laba bersih perusahaan masih tidak lepas dari proyek pemerintah, sebagai sektor jasa ya kalau sudah selesai pembangunannya akan terima uangnya," papar Alfred.

Emiten BUMN Konstruksi Raup Untung Rp4,93 TriliunKinerja emiten BUMN konstruksi. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

Sementara, Analis Mega Capital Indonesia Adrian M Priyatna menilai realisasi kinerja emiten konstruksi ini sudah sesuai dengan ekspektasi pasar. Maka, hasilnya bukan lagi kejutan bagi pelaku pasar.

"Namun ini lebih dikarenakan pengerjaan kontrak-kontrak yang sudah diperoleh emiten tersebut pada periode sebelumnya," tutur Adrian.

Dari sisi arus kas operasional sendiri, seluruh emiten konstruksi ini masih mencatatkan minus. Meski memang, Waskita Karya dan Adhi Karya sedikit beruntung karena secara persentase arus kas operasional keduanya membaik.

Tengok saja, arus kas operasional Waskita Karya dan Adhi Karya per kuartal III 2018 masing-masing minus Rp1,54 triliun dan minus Rp2,09 triliun. Untuk Waskita Karya angka itu turun 69,68 persen dan Adhi Karya turun 30,79 persen.


Sebaliknya, arus kas operasional Wijaya karya dan PTPP semakin negatif. Arus kas operasional Wijaya Karya memburuk 37,54 persen menjadi minus Rp3,7 triliun dan PTPP memburuk 19,7 persen menjadi minus Rp1,82 triliun.

"Arus kas memang masih menjadi persoalan utama, khususnya bagi proyek yang bersifat turn key," ucap Adrian.

Prospek Saham Akhir Tahun

Walaupun begitu, Alfred menilai pergerakan saham keempat emiten ini berpeluang positif pada akhir tahun ditopang oleh aksi window dressing sejumlah pemegang saham perusahaan.

Window dressing sendiri dapat diartikan sebagai sebuah strategi yang dilakukan oleh perusahaan manajer investasi untuk mempercantik portofolio atau performa keuangan sebelum ditampilkan kepada klien atau pemegang saham.


"Kalau sejak awal tahun sampai sekarang (year to date/ytd) masih minus ya saham-sahamnya, tapi kemungkinan pada akhir tahun ini ada perbaikan," tutur Alfred.

Mengutip data RTI Infokom per Selasa (13/11), harga saham Waskita Karya secara ytd terkoreksi 31,45 persen, Wijaya Karya terkoreksi 24,52 persen, PTPP terkoreksi 45,64 persen, dan Adhi Karya terkoreksi 32,89 persen.

Namun, khusus penutupan Selasa sore, saham Waskita Karya dan Wijaya Karya sama-sama bergerak stagnan di level Rp1.515 per saham dan Rp1.170 per saham. Kemudian, untuk PTPP berakhir di level Rp1.435 dengan pelemahan 1,71 persen dan Adhi Karya menguat 0,8 persen ke level Rp1.265 per saham.

Di sisi lain, Adrian menilai aksi window dressing memang kerap dilakukan pemegang saham pada penutupan tahun. Namun, hal itu kemungkinan besar tak berpengaruh cukup signifikan bagi empat BUMN yang tercatat di BEI tersebut.


"Tren konstruksi masih melanjutkanpelemahannya hingga akhir tahun, diharapkan bangkit akhir tahun tapi tampaknya belum naik cukup signifikan," jelasAdrian. (aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK