PKPU Dikabulkan, Merpati Siap 'Terbang' Lagi

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 12:46 WIB
Pengadilan Niaga Surabaya mengabulkan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Merpati Nusantara Airlines. Pesawat Merpati. (AFP).
Surabaya, CNN Indonesia -- Pengadilan Niaga Surabaya mengabulkan proposal perdamaian permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Merpati Nusantara Airlines. Keputusan tersebut diambil Majelis Hakim dengan pertimbangan, mayoritas kreditur Merpati, baik konkruen maupun separatis setuju dengan PKPU yang mereka ajukan. 

"Majelis Hakim menyatakan sah perdamaian yang dilakukan antara Merpati dengan para krediturnya sebagaimana telah disepakati bersama," kata Hakim Ketua Sigit Sutriono di Surabaya, Rabu (14/11).

Salah satu pengurus PKPU Merpati Beverly Charles Panjaitan mengatakan dengan dikabulkannya PKPU tersebut Merpati punya peluang untuk terbang lagi.

Ia mengakui untuk menuju ke proses terbang lagi tersebut, Merpati masih memerlukan proses. Maklum, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi Selasa (13/11) kemarin mengatakan untuk bisa terbang lagi Merpati harus memenuhi banyak syarat. 



Syarat tersebut adalah; memiliki armada, memiliki awak serta pilot dan kondisi keuangan mereka sehat. Selain syarat tersebut, Merpati juga harus memenuhi syarat keselamatan dan keamanan.

Charles mengatakan syarat itulah yang harus segera dipenuhi Merpati agar bisa terbang lagi. "Poinnya, setelah proposal perdamaian PKPU ini dikabulkan, dari sisi hukum kewajiban harus dijalankan. Kalau dari sisi mau terbang lagi, harus ada pembelian pesawat dan lain-lain yang disyaratkan Kementerian perhubungan kemarin," katanya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/11).

Selain itu Sigit mengatakan Merpati juga harus menyelesaikan utang kepada para kreditur dengan jangka waktu tertentu meski dalam sistem dicicil.


Maskapai penerbangan pelat merah ini diketahui mati suri sejak 1 Februari 2014 silam karena tekanan finansial. Pada akhir tahun lalu, perusahaan memiliki beban utang kepada sejumlah kreditur sebesar Rp10,72 triliun.

Berdasarkan data Kementerian BUMN, total aset yang dimiliki Merpati pada akhir 2017 hanya tersisa Rp1,21 triliun. Karena perusahaan tidak beroperasi, maka tak ada raihan pendapatan maupun laba bersih. Alhasil, ekuitas perusahaan pun tercatat minus Rp9,51 triliun dan perusahaan merugi Rp737 miliar. (frd/agt)