Izin Frekuensi Terancam Dicabut, Saham First Media Anjlok

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 11:23 WIB
Izin Frekuensi Terancam Dicabut, Saham First Media Anjlok First Media. (CNN Indonesia/Rebeca Joy Limardjo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga saham PT First Media Tbk (KLBV) terperosok cukup dalam sejak pembukaan pagi ini, Rabu (14/11). Pada pukul 11.00 WIB, harga saham perusahaan di bawah naungan Lippo Grup ini sudah merosot 5,58 persen atau 22 poin ke level Rp372 per saham.

Analis Anugerah Sekuritas Bertoni Rio mengatakan pelaku pasar banyak yang melepas saham First Media karena khawatir pemerintah benar-benar akan mencabut izin penggunaan frekuensi 2,3 GHz. Ancaman itu direalisasikan oleh pemerintah bila perusahaan tidak memenuhi kewajiban sampai 17 November 2018 mendatang.

"Pelaku pasar tunggu klarifikasi terkait berita (terkait ancaman pemberhentian izin) itu. Minimal tunggu 17 November atau tunggu klarifikasi dari perusahaan," ucap Bertoni kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/11).



Saat ini, perusahaan sedang tersangkut masalah tunggakkan Biaya Hak Penggunaan Frekuensi (BHP) frekuensi sejak 2016 hingga tahun ini. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara sebelumnya mengatakan belum ada upaya pelunasan yang dilakukan oleh First Media. Ia pun menyebut bakal mencabut izin frekuensi First Media jika tak juga membayarkan tunggakan tersebut. 

"Kementerian Komunikasi dan Informatika bertindak sebagai regulator untuk mengatur penggunaan frekuensi dan perizinan. Namun keputusan akhir seharusnya tunggu sidang pengadilan," papar Bertoni.


Persoalan ini, kata Bertoni, masih terus menjadi sentimen negatif bagi saham First Media karena mempengaruhi pelaku pasar dalam mengonsumsi saham tersebut. Meski demikian, menurut dia, saham First Media sendiri terbilang tidak liquid di pasar, sehingga volume transaksi per harinya tidak besar.

"Diperkirakan turun potensinya sampai 10 persen sampai ada berita selanjutnya," jelas Bertoni.

Berdasarkan RTI Infokom, saham First Media sudah melorot sebesar 13,08 persen bila dilihat secara year to date (ytd). Namun, secara tahunan anjlok 52,31 persen. (aud/agi)