BP Batam Catat Investasi Rp5,2 T dari Lahan 'Tidur'

CNN Indonesia | Sabtu, 17/11/2018 16:39 WIB
BP Batam Catat Investasi Rp5,2 T dari Lahan 'Tidur' ilustrasi investasi. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pengusahaan (BP) Batam menyatakan telah mengantongi perjanjian investasi sebesar Rp5,2 triliun dari sebagian lahan tidak produktif di kawasan tersebut. Data luasan lahan menganggur di BP Batam mencapai 5.000 hingga 6.000 hektar (ha).

Deputi III Bidang Pengusahaan Sarana dan Usaha di BP Batam Dwianto Eko Winaryo menuturkan total investasi itu diajukan investor dalam periode Januari-Oktober 2018. Dwianto menyebut investor harus terlebih dulu mendapat izin dari BP Batam sebelum akhirnya memulai konstruksi dan operasi bisnisnya.

"Investasi tersebut akan mulai dilakukan tahun ini, tahun depan, dan dua tahun berikutnya," ujar Dwianto di Hotel Grand Hyatt, Jumat (16/11).



Dwianto menyebut salah satu investasi yang tengah berjalan yaitu pembangunan refinery palm oil atau pabrik pengolahan minyak kelapa sawit. Investor dari pabrik pengolahan itu adalah PT Unggul Persada.

Perusahaan tersebut merupakan bagian dari Wilmar Group. Total investasi yang mereka tanam mencapai Rp1 triliun. Investasi tersebut dilakukan di atas lahan seluas 8,3 ha.

"Perkembangan konstruksi mencapai 30 persen dan Insya Allah 2019 akhir sudah bisa operasi," imbuh Dwianto.

Ia melanjutkan rata-rata investasi di kawasan Batam menggunakan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Namun demikian, tidak menutup kemungkinan perusahaan tersebut menerima skema Penanaman Modal Asing (PMA).


"Kami telah melakukan evaluasi terhadap lahan-lahan yang tidak dimanfaatkan secara maksimal. Untuk sisa lahan yang belum, nanti kami panggil dan mereka presentasi bisnis plan (rencana bisnis)," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah mendorong pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pada kawasan tersebut. Selain BP Batam, Indonesia juga tengah mengembangkan BP Bintan, BP Tanjungpinang, dan BP Karimun.

"Dalam perkembangannya akan lahir KEK-KEK. Ada lagi di dalamnya (kawasan ekonomi) yang lebih kecil lokasinya tapi lebih fokus," ujar Darmin. 

(ulf/agt)