Jokowi Minta XI Jinping Permudah Impor Sarang Walet Indonesia

Antara, CNN Indonesia | Minggu, 18/11/2018 00:56 WIB
Jokowi Minta XI Jinping Permudah Impor Sarang Walet Indonesia Presiden Joko Widodo dan Presiden China Xi Jinping, di KTT Asia Afrika, Jakarta, 22 April 2015. (Adi Weda)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo meminta kemudahan ekspor berbagai produk asal Indonesia ke Negeri Tirai Bambu saat bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan bilateral yang digelar di sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC), di Port Moresby, Papua Nugini.

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin dalam keterangan persnya yang dikutip dari Antara, menyebutkan pertemuan tersebut dihelat di Hotel Stanley, Port Moresby, Sabtu (17/11) sore.

Mengawali pertemuan, Presiden Jokowi memberikan ucapan selamat kepada Presiden Xi Jinping atas kesuksesan RRT menggelar pameran internasional ekspor di Shanghai yang berlangsung belum lama ini.


"Saya ingin menyampaikan selamat atas penyelenggaraan The 1st China International Import Export Expo di Shanghai baru-baru ini, di mana Indonesia menjadi 'Negara Kehormatan'," ujar Presiden Jokowi.

Selain itu, Presiden Jokowi juga mengapresiasi RRT atas ucapan simpati dan kerja sama yang diberikan dalam penanganan bencana alam di Lombok dan Sulawesi Tengah.

Kedua kepala negara kemudian membahas beberapa hal terkait hubungan kedua negara. Dalam bidang perdagangan, Presiden berharap kedua negara dapat bekerja sama mengatasi defisit perdagangan Indonesia-RRT melalui berbagai cara.

Ilustrasi sarang burung walet.Ilustrasi sarang burung walet. (AFP PHOTO / PHILIPPE HUGUEN)
Cara itu antara lain kemudahan bagi ekspor buah tropis dari Indonesia ke RRT, seperti nanas segar, buah naga, alpukat, rambutan, mangga, pisang dan durian.

"Kemudahan bagi impor sarang burung walet asal Indonesia," lanjutnya.

Presiden juga berharap keberlanjutan ekspor kelapa sawit dan produk turunannya, termasuk kerja sama pengembangan biodiesel seperti biofuel B5, B20, dan replantasi kelapa sawit. Selain itu, Presiden Jokowi ingin agar RRT tidak menerapkan kuota atau anti-dumping untuk produk manufaktur Indonesia seperti besi baja.

"Saya juga harap Yang Mulia dapat mendorong wisatawan RRT untuk berkunjung ke Indonesia khususnya ke Bali dan 10 Bali baru," imbuhnya.

Kedua Kepala Negara juga membahas mengenai kerja sama di bidang investasi, termasuk untuk mengembangkan industri 4.0.

Dalam pertemuan bilateral ini, Presiden didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Presiden Joko Widodo (ketiga kiri depan) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo (keempat kiri depan) berfoto bersama pemimpin negara APEC di Da Nang, Vietnam, 2017.Presiden Joko Widodo (ketiga kiri depan) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo (keempat kiri depan) berfoto bersama pemimpin negara APEC di Da Nang, Vietnam, 2017. (ANTARA FOTO/POOL/YU)
Selain itu, hadir pula Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, Duta Besar LBBP RI untuk Papua Nugini Ronald J.P. Manik, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Desra Percaya dan Staf Khusus Presiden Adita Irawati.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2018 mengalami defisit sebesar US$1,82 miliar secara bulanan (month-to-month/mtm). Neraca perdagangan secara kumulatif Januari-Oktober 2018 juga mengalami defisit perdagangan mencapai US$5,51 miliar.

Meskipun, ada kenaikan ekspor ke beberapa negara, seperti ekspor ke China yang naik US$243,3 juta, Swiss US$171,7 juta, dan Singapura US$144,1 juta.

(arh/arh)