Harga Minyak Tertekan Merosotnya Indeks Saham Wall Street

CNN Indonesia | Rabu, 21/11/2018 08:03 WIB
Harga Minyak Tertekan Merosotnya Indeks Saham Wall Street Ilustrasi. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia terjerembab sekitar tujuh persen pada perdagangan Selasa (20/11), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan terjadi seiring aksi jual yang mewarnai pasar Wall Street akibat meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Dilansir dari Reuters, Rabu (21/11), harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) merosot US$3,9 atau 6,8 persen menjadi US$53,3 per barel. Di awal sesi perdagangan, harga WTI sempat tertekan hingga 7,7 persen menjadi US$52,77 per barel, terendah sejak Oktober 2017.

Selama sesi perdagangan berlangsung, lebih dari 868 ribu kontrak awal bulan WTI telah berpindah terangan. Jumlah tersebut melampaui rata-rata harian selama 10 bulan terakhir.

Sementara, harga minyak mentah Brent turun US$4,5 atau 6,7 persen menjadi US$62,29 per barel. Di awal sesi perdagangan, harga minyak acuan global ini sempat turun hingga 7,6 persen menjadi US$61,71 per barel, terendah sejak Desember 2017.


Tren penurunan kedua harga acuan telah terjadi sejak awal Oktober 2018 lalu. Harga WTI telah terjungkal lebih dari 30 persen sejak menyentuh level tertinggi untuk hampir empat tahun terakhir di awal Oktober 2018. Hal itu terjadi akibat melesatnya jumlah pasokan dan aksi jual di pasar global terhadap aset berisiko.


Selama periode yang sama, harga Brent telah merosot sekitar 28 persen. "Untuk saat ini, (penyebabnya) lebih terkait risiko," ujar Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch.

Menurut Ritterbusch, saat pasar saham tertekan delapan hingga sembilan persen, pasar saham cenderung menciptakan gambaran lemahnya perekonomian global. Hal itu menimbulkan ekspektasi pelemahan permintaan minyak yang lebih besar dari perkiraan.

Pada perdagangan Selasa (21/11) lalu, indeks saham S&P tertekan ke level terendah dalam tiga pekan terakhir. Hal itu dipicu oleh kekhawatiran pengusaha ritel besar terhadap permintaan di musim liburan. Sementara, saham di sektor teknologi terus merosot akibat kekhawatiran terhadap penjualan iPhone.


Selama dua bulan terakhir, pasar saham global telah tertekan oleh kekhawatiran terhadap pertumbuhan pendapatan korporasi, kenaikan biaya pinjaman, momentum perlambatan perekonomian global dan tensi perdagangan internasional. Di tengah ketidakpastian, pelaku pasar keuangan juga khawatir terhadap pasar minyak dipicu oleh risiko penurunan harga akibat pertumbuhan produksi minyak shale AS dan merosotnya proyeksi perekonomian global.

Selain itu, harga minyak dunia juga tertekan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan AS tetap menjadi mitra setia Arab Saudi meskipun Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman diduga terlibat dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi bulan lalu di Turki.

Selanjutnya, pasar minyak telah meningkatkan kewaspadaan akibat potensi gangguan pasokan di tengah memanasnya tensi antara AS dan Arab Saudi akibat pembunuhan tersebut. Namun, ancaman terhadap pasokan sejak awal terbatas.

"Saya tidak pernah memahami premi di balik gesekan antara AS dan Arab Saudi dari sisi kebijakan. Hubungan tersebut benar-benar terlalu erat untuk putus," ujar Analis Senior Kebijakan Energi Hedgeye Risk Management Joe McMonigle di Washington.


Sementara itu, AS tengah mempertimbangkan untuk memasukkan Venezuela, salah satu pemasok minyak mentah terbesar, ke dalam daftar negara yang mendanai terorisme. Namun, berdasarkan sumber Reuters, belum ada keputusan akhir terkait hal itu.

Ekspektasi meningkatnya persediaan minyak mentah AS selama sembilan pekan berturut-turut juga turut membebani harga minyak. Berdasarkan jajak pendapat analis, stok minyak mentah AS bakal meningkat sekitar 2,9 juta barel pada pekan lalu.

Produksi minyak mentah AS telah melesat hampir 25 persen tahun ini menjadi 11,7 juta barel per hari (bph). Di sisi lain, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tengah berencana untuk memangkas pasokan sekitar 1 juta hingga 1,4 juta bph dalam pertemuan yang akan diselenggarakan pada 6 Desember mendatang.


Uni Emirat Arab menyatakan sangat mungkin OPEC bakal memangkas produksinya tetapi besarannya belum diputuskan. Namun, Badan Energi Internasional (IEA) mengingatkan OPEC dan produsen minyak lainnya akan efek negatif dari pemangkasan pasokan dengan ketakutan analis akan melonjaknya harga minyak yang dapat menekan konsumsi.

"Kita memasuki periode ketidakpastian pasar minyak yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujar Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol awal pekan ini.
(sfr/agt)