Harga Minyak Terdongkrak Kenaikan Permintaan di AS

CNN Indonesia | Kamis, 22/11/2018 06:38 WIB
Harga Minyak Terdongkrak Kenaikan Permintaan di AS Ilustrasi. (REUTERS/Edgar Su)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menanjak pada perdagangan Rabu (21/11), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan terjadi setelah data pemerintah AS yang menunjukkan kuatnya permintaan untuk produk bahan bakar hasil pengilangan. Namun, kekhawatiran terhadap meningkatnya pasokan minyak mentah global tetap menghantui pergerakan harga minyak.

Dilansir dari Reuters, Kamis (22/11), harga minyak mentah berjangka Brent menanjak US$0,95 atau 1,52 persen menjadi US$63,48 per barel. Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,2 atau 2,25 persen menjadi US$54,63 per barel.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah AS naik 4,9 juta barel pekan lalu, lebih besar dari perkiraan. Sebagai catatan, stok minyak mentah AS telah menanjak selama sembilan pekan berturut-turut, terlama sejak Maret 2017.


Sementara, persediaan minyak mentah di hub pengiriman AS di Cushing, Oklahoma, turun 116 ribu barel. EIA menyatakan penurunan tersebut merupakan yang pertama sejak sembilan pekan terakhir.


Selanjutnya, persediaan bensin juga tergerus 1,3 juta barel ke level terendah sejak Desember 2017. Data EIA juga menunjukkan penurunan stok minyak distilasi sebesar 77 ribu barel.

"Stok di Cushing mencatatkan penurunan untuk pertama kalinya selama dua bulan terakhir, kemungkinan sebuah tanda dari beberapa hal yang dapat menggerakkan sejumlah dorongan pada kurva harga WTI," ujar Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Kendati demikian, secara keseluruhan, pasar minyak tetap lemah setelah harga minyak mentah terjerembab lebih dari enam persen pada sesi perdagangan sebelumnya, di saat pasar ekuitas dunia bergejolak akibat kekhawatiran terhadap prospek ekonomi.

Harga Brent telah merosot lebih dari 25 persen sejak mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir US$86,74 per barel pada 3 Oktober 2018. Hal itu mencerminkan proyeksi perlambatan permintaan dan pasokan yang mencukupi dari Arab Saudi, Rusia, dan AS.


Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tengah membicarakan soal pemangkasan produksi setelah beberapa bulan lalu memutuskan untuk mengerek produksinya. Opsi untuk memangkas produksi kembali dilirik karena khawatir pasokan minyak akan membanjiri pasar dan membuat harganya tertekan.

Sumber Reuters menyatakan OPEC, Rusia, dan sejumlah produsen minyak tengah mempertimbangkan untuk memangkas pasokan sebesar 1 juta hingga 1,4 juta barel per hari (bph). Keputusan itu akan diambil dalam pertemuan yang akan digelar pada 6 Desember 2018 mendatang.

Kendati demikian, sejumlah analis menilai Arab Saudi kemungkinan bakal kesulitan untuk melakukan kebijakan demi mendorong harga. Pasalnya, Presiden AS Donald Trump memuji Arab Saudi karena telah membantu menurunkan harga minyak.

Arab Saudi kemungkinan bakal cenderung memenuhi keinginan AS setelah Trump berjanji pada Selasa (20/11) lalu untuk tetap menjadi mitra yang setia bagi Arab Saudi meski mengatakan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salma kemungkinan mengetahui tentang rencana pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.


Di AS, perusahaan layanan energi Baker Hughes mencatat perusahaan minyak memangkas jumlah produksi minyak sebanyak tiga menjadi 885 rig pada pekan yang berakhir 21 November 2018.

"Wajar untuk mengatakan harga minyak akan terus cukup bergejolak antara sekarang hingga 6 Desember 2018, saat anggota OPEC bertemu," ujar Direktur Pelaksana Tortoise Brian Kessens.

Menurut Kessens, akan banyak retorika berbeda dan antisipasi soal apa yang akan sebenarnya terjadi.

(sfr/agt)