Di kawasan Asia, won Korea Selatan juga stagnan seperti halnya rupiah. Hanya baht Thailand dan peso Filipina yang menguat dari dolar AS, masing-masing 0,08 persen dan 0,12 persen.
Sementara mayoritas mata uang Asia lainnya justru bersandar di zona merah. Ringgit Malaysia melemah 0,14 persen, yen Jepang minus 0,03 persen, dolar Singapura minus 0,03 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,01 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu pula dengan mayoritas mata uang utama negara maju yang melemah dari dolar AS. Hanya dolar Australia yang menguat 0,09 persen dan dolar Kanada 0,11 persen.
Sedangkan rubel Rusia melemah 0,55 persen, poundsterling Inggris minus 0,03 persen, euro Eropa minus 0,02 persen, dan franc Swiss minus 0,01 persen.
"Penolakan paket kebijakan pemerintah tersebut tidak banyak mengganggu pergerakan rupiah, maka peluang untuk penguatan pun dapat terjadi," ujarnya, Senin (26/11).
Di sisi lain, pergerakan dolar AS diperkirakan belum terlalu signifikan pada awal pekan ini usia libur akhir pekan dalam rangka Thanksgiving. Meski demikian, ada potensi penguatan dolar AS karena pergerakan mata uang utama negara maju, khususnya di kawasan Eropa justru kembali melemah karena sentimen data ekonomi Benua Biru.
"Data euro zone business growth (pertumbuhan bisnis Zona Eropa) tercatat melambat. Begitu pun dengan private sector (sektor swasta) di Jerman, sehingga menekan Euro," pungkasnya.