Awal Pekan, Rupiah Stagnan di Level Rp14.544 per Dolar AS

CNN Indonesia | Senin, 26/11/2018 09:08 WIB
Awal Pekan, Rupiah Stagnan di Level Rp14.544 per Dolar AS Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.544 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar pagi ini, Senin (26/11), stagnan dari akhir pekan lalu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.544 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar pagi ini, Senin (26/11). Posisi ini stagnan dari akhir pekan lalu, Jumat (23/11).

Di kawasan Asia, won Korea Selatan juga stagnan seperti halnya rupiah. Hanya baht Thailand dan peso Filipina yang menguat dari dolar AS, masing-masing 0,08 persen dan 0,12 persen.

Sementara mayoritas mata uang Asia lainnya justru bersandar di zona merah. Ringgit Malaysia melemah 0,14 persen, yen Jepang minus 0,03 persen, dolar Singapura minus 0,03 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,01 persen.



Begitu pula dengan mayoritas mata uang utama negara maju yang melemah dari dolar AS. Hanya dolar Australia yang menguat 0,09 persen dan dolar Kanada 0,11 persen.

Sedangkan rubel Rusia melemah 0,55 persen, poundsterling Inggris minus 0,03 persen, euro Eropa minus 0,02 persen, dan franc Swiss minus 0,01 persen.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan pergerakan rupiah yang stagnan pada pagi hari ini bisa kembali menguat pada sore hari nanti. Sebab, dari dalam negeri, sentimen pro-kontra paket kebijakan ekonomi ke-16 seakan mulai menemukan titik tengah antara pemerintah dan dunia usaha.


"Penolakan paket kebijakan pemerintah tersebut tidak banyak mengganggu pergerakan rupiah, maka peluang untuk penguatan pun dapat terjadi," ujarnya, Senin (26/11).

Di sisi lain, pergerakan dolar AS diperkirakan belum terlalu signifikan pada awal pekan ini usia libur akhir pekan dalam rangka Thanksgiving. Meski demikian, ada potensi penguatan dolar AS karena pergerakan mata uang utama negara maju, khususnya di kawasan Eropa justru kembali melemah karena sentimen data ekonomi Benua Biru.

"Data euro zone business growth (pertumbuhan bisnis Zona Eropa) tercatat melambat. Begitu pun dengan private sector (sektor swasta) di Jerman, sehingga menekan Euro," pungkasnya.

(uli/lav)