Harga Minyak Menguat 3 Persen Terungkit Kinerja Bursa AS

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 07:27 WIB
Harga Minyak Menguat 3 Persen Terungkit Kinerja Bursa AS Ilustrasi kilang minyak. (ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia menguat hampir 3 persen pada perdagangan Senin (26/11), waktu Amerika Serikat (AS), dipicu reli pasar saham AS seiring momentum Hari Belanja Daring terbesar. Harga minyak berjangka seringkali sejalan dengan pasar modal.

Namun, penguatan harga minyak dunia dibatasi oleh ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global dan munculnya sinyal pasokan yang bertambah, termasuk dari negara produsen Arab Saudi.

Dilansir dari Reuters, Selasa (27/11), harga minyak mentah berjangka Brent menanjak US$1,68 atau 2,9 persen menjadi US$60,48 per barel.



Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,21 atau 2,4 persen menjadi US$51,63 per barel.

Pada perdagangan Jumat (23/11) lalu, harga minyak dunia sempat tertekan pada level terendahnya sejak Oktober 2017. Saat itu, Brent terjerembab ke level US$58,41 per barel dan WTI terjungkal ke level US$50,15 per barel. Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap membanjirnya pasokan di pasar.

"Kami ragu untuk mengartikan peningkatan harga minyak hari ini, mengingat terlalu banyak kondisi teknis berada di bawah nilai sebenarnya yang hanya membutuhkan reli pasar modal yang cukup untuk mendorong pemulihan jangka pendek," ujar President Ritterbusch dan Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.


Kenaikan harga minyak ditopang oleh reli di pasar saham AS seiring dimulainya Cyber Monday, hari belanja daring terbesar tahun ini.

Namun demikian, kebangkitan harga minyak pada awal pekan ini tertahan oleh kekhawatiran atas jumlah permintaan, sementara produksi dari Arab Saudi berpotensi naik.

Sumber Reuters dari kalangan pelaku industri menyebutkan produksi minyak Arab Saudi menyentuh level 11,1 juta hingga 11,3 juta barel per hari (bph) pada November lalu, tertinggi sepanjang masa.


Investor juga cenderung melepas aset-aset yang terkait erat dengan perekonomian global, seperti saham dan minyak, karena sejumlah faktor. Salah satunya, penguatan dolar AS memangkas permintaan pada negara berkembang utama. Selain itu, kenaikan biaya pinjaman serta ancaman terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dari memanasnya tensi dagang antara AS dan China juga menjadi sentimen negatif bagi investor.

Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC) mencatat manajer keuangan dan investasi dunia mengerek penawaran pada posisi harga minyak naik pada pekan yang berakhir 20 November 2018. Hal itu terjadi untuk pertama kalinya selama delapan pekan terakhir.

Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak September dan mengerek posisi beli bersih dari level terendahnya selama lebih dari setahun.


Selanjutnya, pelaku pasar mengantisipasi hasil pertemuan anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Wina, Austria, pada 6 Desember 2018 mendatang. Arab Saudi dan negara anggot OPEC lain diperkirakan bakal sepakat dengan kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1,4 juta bph bersama.

Senin (26/11) kemarin, Goldman Sachs menyatakan pertemuan G20 pekan ini dapat menjadi katalis pemulihan harga komoditas. Pasalnya, pertemuan tersebut dapat mendorong mencairnya tensi perdagangan antara AS-China serta memberikan kejelasan terkait rencana pemangkasan produksi OPEC.

Goldman meyakini OPEC dan negara lain akan menyepakati satu kebijakan yang bakal mendorong pemulihan harga Brent. (sfr/lav)