Gubernur BI Minta RI Waspadai 3 Tantangan Ekonomi Global

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 12:53 WIB
Gubernur BI Minta RI Waspadai 3 Tantangan Ekonomi Global Gubernur BI Perry Warjiyo meminta Indonesia untuk mewaspadai tiga tantangan ekonomi global yang tumbuh tidak merata dan penuh ketidakpastian. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan perekonomian global tumbuh tidak merata dan penuh ketidakpastian pada tahun ini. Kondisi ini diprediksi masih akan berlanjut pada tahun depan.

Berdasarkan catatannya, tiga tantangan ekonomi Indonesia yang terkait dengan kondisi ekonomi global pada tahun depan, yaitu pertama, proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang landai.

"Ekonomi AS yang tahun ini tumbuh tinggi diperkirakan menurun pada 2019. Ekonomi Uni Eropa dan China juga akan landai. Perkembangan tersebut mendorong volume dagang dan harga komoditas dunia yang tetap rendah," ujarnya, Selasa (27/11).


Kedua, kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Fed, yang akan diikuti dengan normalisasi kebijakan moneter di Eropa dan negara maju lainnya. Tren kenaikan suku bunga ini memberikan tantangan bagi bank-bank sentral di negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Misalnya, dalam merumuskan respons kebijakan moneternya untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi dan memitigasi dampak rambat keuangan global.

Ketiga, Perry melanjutkan, ketidakpastian di pasar keuangan global mendorong tingginya premi risiko investasi ke negara-negara berkembang.

"Kita dikejutkan dengan munculnya ketegangan perdagangan yang dilancarkan AS ke sejumlah negara. Perundingan perdagangan kemungkinan masih akan berlanjut pada tahun depan," tutur dia,


Belum lagi persoalan krisis ekonomi di Argentina dan nyaris terjadi di Turki yang semakin memperburuk persepsi risiko di pasar keuangan global, termasuk sentimen negatif ke sejumlah negara-negara berkembang.

Tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global juga didorong oleh sejumlah risiko geopolitik, seperti keberlanjutan perundingan Brexit antara Inggris dan Uni Eropa, dan permasalahan deifist anggaran di Italia.

"Tiga perkembangan global tersebut berdampak pada kuatnya mata uang dolar AS dan pembalikan modal asing dari negara-negara berkembang. Demikian pula untuk RI, aliran investasi yang masuk pada 2017 sangat besar hingga US$24,7 miliar, namun mendadak keluar hingga Juni 2018," tandasnya.


(uli/bir)