Menaker Ungkap Tiga Masalah WNI Sulit Kerja ke Luar Negeri

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 20:06 WIB
Menaker Ungkap Tiga Masalah WNI Sulit Kerja ke Luar Negeri Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengatakan terdapat tiga faktor yang menghambat pekerja Indonesia di luar negeri; bahasa, komputer, dan kecakapan. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengatakan terdapat tiga faktor yang menghambat pekerja Indonesia mendapatkan peluang bekerja di luar negeri. Tiga faktor tersebut; bahasa, komputer, dan kecakapan di luar keterampilan teknis (soft skill).

Hanif mengatakan masalah tersebut menjadi alasan pekerja Indonesia di luar negeri kalah saing dibanding dengan pekerja dari negara Asia Tenggara lain seperti Thailand dan Filipina. Sebab, dengan keahlian minim, kesempatan kerja Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri juga terbilang terbatas.

"Syarat tenaga kerja agar bisa bekerja ke luar negeri ini adalah menguasai skill yang baik. Namun yang terjadi adalah tenaga kerja Indonesia mengalami masalah yakni bahasa, soft skill, dan penguasaan komputer," jelas Hanif, Selasa (27/11).


Ia menuturkan permasalahan tersebut membuat tenaga kerja Indonesia di luar negeri cenderung mencari pekerjaan yang berisiko rendah dan tidak mengutamakan keahlian. Padahal, jika tenaga kerja Indonesia berpikir untuk menjadi pekerja profesional di satu bidang tertentu, ia bisa mendapatkan kompensasi dan jaminan sosial yang lebih baik.


Ia mencontohkan pekerjaan asisten perawat di Jepang yang bisa mendapat kompensasi Rp21 juta per bulan karena tenaga profesional sangat dihargai di luar negeri. Bahkan, ia juga berkelakar bahwa gaji ini juga lebih besar dari gaji menteri yang berkisar Rp19 juta per bulan. Semakin profesional pekerjaan TKI, maka remitansi yang didapatkan Indonesia jauh lebih baik.

Saat ini ia menyebut terdapat 9 juta TKI yang bekerja di luar negeri. Dari jumlah tersebut, 55 persen di antaranya bekerja di Malaysia. Dari jumlah tersebut, remitansi yang dihasilkan berjumlah Rp108,32 triliun atau US$8,1 miliar di tahun lalu.

Angka remitansi tersebut jauh berbeda dengan Filipina yang memiliki 10 juta tenaga kerja yang bekerja di luar negeri. Pada 2017 kemarin, tenaga kerja Filipina yang bekerja di luar negeri berhasil menyumbang remitansi US$28,1 miliar. Angka remitansi ini terbilang 3,5 kali dari angka yang dimiliki Indonesia.

"Kalau didorong profesionalisme, maka benefit yang didapatkan pekerja makin baik. Selain itu, banyak peluang kerja di luar negeri yang bisa dioptimalkan," imbuh Hanif.

(glh/agt)