Darmin Harap Penurunan Harga Minyak Kikis CAD

CNN Indonesia | Rabu, 28/11/2018 16:01 WIB
Menko Darmin Nasution berharap penurunan harga minyak mentah dunia bisa berdampak pada membaiknya angka defisit transaksi berjalan (CAD). Ilustrasi minyak mentah. (REUTERS/Edgar Su).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berharap penurunan harga minyak mentah dunia yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan bisa berdampak pada membaiknya angka defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD).

Saat ini, harga minyak mentah berjangka Brent berada di kisaran US$60,21 per barel. Padahal, harga minyak Brent sempat menembus angka US$78,85 per barel. Begitu pula dengan harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) US$51,56 per barel. Sementara, harga tertinggi minyak WTI sempat mencapai US$70,08 per barel.

Darmin berharap penurunan harga minyak mentah dunia mampu menurunkan defisit transaksi berjalan karena kontribusi terbesar bagi neraca pembayaran Indonesia merupakan impor minyak dan gas (migas).


Secara volume, mungkin jumlah impor migas tidak akan turun secara signifikan dalam waktu dekat. Meski, pemerintah telah berupaya menekan angka impor migas. Namun setidaknya, dengan penurunan harga minyak mentah dunia, maka nominal nilai impor migas bisa sedikit menyusut.

"Kalau harga turun, kami bisa berharap defisit transaksi berjalan dari minyak bisa berkurang. Karena defisit transaksi berjalan itu dominasinya dari minyak, kalau non migas sebenarnya masih surplus sedikit," ucapnya di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (28/11).

Kendati demikian, mengingat harga minyak mentah sangat ditentukan oleh mekanisme pasar, maka ia belum bisa memperkirakan lebih lanjut berapa potensi penurunan impor migas dan dampaknya ke posisi defisit transaksi berjalan Indonesia ke depan.


Namun, target pemerintah, defisit transaksi berjalan bisa berada di kisaran 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir tahun ini. Sedangkan tahun depan di kisaran 2,5 persen dari PDB.

Target tersebut telah dihitung dengan matang karena pemerintah turut mengendalikan defisit transaksi berjalan dengan cara lain. Misalnya, pembatasan impor dengan tarif Pajak Penghasilan (PPh), perluasan mandatori biodiesel 20 persen (B20), termasuk peningkatan ekspor.

Teranyar, pemerintah turut mengeluarkan tiga kebijakan lain yang dirangkum dalam paket kebijakan ekonomi ke-16, yaitu perluasan insentif libur pajak (tax holiday), perubahan Daftar Negatif Investasi (DNI), dan perubahan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE).


Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri menilai sentimen penurunan harga minyak mentah dunia tidak akan serta merta menurunkan defisit transaksi berjalan.

Sebab, kontribusi impor migas pada neraca tersebut sejatinya minim. Kontribusi terbesar, sambungnya, justru berasal dari keuntungan perusahaan asing yang pulang kampung ke luar negeri setelah sukses beroperasi di Tanah Air.

Menurut catatannya, total keuntungan yang dibawa perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia mencapai US$20 miliar pada tahun lalu. Sedangkan pada tahun ini, kontribusi defisit transaksi berjalan dari impor barang hanya sekitar US$2,2 miliar dan jasa US$2,7 miliar.


"Tapi keuntungan perusahaan asing yang dibawa pulang itu mencapai US$11 miliar pada tahun ini. Jadi ini yang tidak dibicarakan oleh pemerintah, bukan sekadar ekspor impor," terang dia.

Untuk itu, ia menambahkan pemerintah perlu memutar otak agar mampu menyakinkan para perusahaan asing untuk tak membawa keuntungannya ke luar negeri, namun memutarnya kembali di dalam negeri. "Jadi, kalau bisa yang seperti ini dijaga, bukan sekadar cari investor baru," pungkasnya.


(uli/bir)