Stok Minyak Naik, Harga Minyak Mentah Dunia Merosot

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 29/11/2018 06:56 WIB
Stok Minyak Naik, Harga Minyak Mentah Dunia Merosot ilustrasi. Foto: REUTERS/Edgar Su/Files
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia merosot ke bawah US$60 per barel pada perdagangan Rabu (28/11), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan dipicu oleh kenaikan stok minyak mentah AS yang terjadi selama sepuluh pekan berturut-turut, di tengah kekhawatiran membanjirnya pasokan minyak global.

Dilansir dari Reuters, Kamis (29/11), harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$0,32 atau 0,5 persen menjadi US$59,89 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, harga Brent sempat tertekan ke level US$59,03 per barel.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,25 menjadi US$51,31 per barel. Posisi itu naik dari level terendah selama sesi perdagangan berlangsung, US$50,61 per barel.



Harga minyak mentah harian berhasil pulih dari tekanan berkat reli yang terjadi di pasar saham. Kinerja pasar saham menanjak menyusul pernyataan Gubernur Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell terkait risiko terhadap perekonomian Negeri Paman Sam yang relatif berimbang. Hal itu menjadi sinyal laju kenaikan suku bunga acuan AS bakal melambat dalan beberapa bulan ke depan.

Selama tiga hari terakhir, investor mulai banyak membeli komoditas minyak yang harganya tengah menurun.

Dalam pidatonya, Powell menyatakan The Fed tidak memiliki alur kebijakan yang telah disusun sebelumnya (pre-set). Hal ini menandakan terkereknya suku bunga acuan bank sentral yang terus terjadi dapat melambat pada beberapa bulan ke depan.

Powell kerap dikritik oleh Presiden AS Donald Trump yang selama beberapa dekade cenderung menyerang kebijakan The Fed.


"Ia (Powell) sekarang menyadari bahwa ia cenderung netral yang menandakan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan di masa depan tidak sebanyak yang diyakini investor. Ini benar-benar merupakan perubahan bahasa dan kabar yang disambut oleh investor," ujar Direktur Investasi Cresset Wealth Advisors Jack Ablin di Chicago.

Stok minyak mentah AS naik di atas ekspektasi dengan mencatatkan kenaikan 3,6 juta barel pekan lalu menjadi 450 juta barel, tertinggi dalam setahun. Setelah merosot ke level terendah dalam 2 1/2 tahun terakhir pada September 2018 lalu, stok minyak mentah telah terkerek 14 persen dengan kenaikan yang terjadi selama 10 pekan berturut-turut.

Kenaikan stok minyak mentah AS sebagian terjadi akibat masuknya musim perawatan kilang. Namun, produksi minyak juga melesat ke level 11,7 juta barel per hari (bph). Kenaikan stok dan produksi AS menambah kekhawatiran membanjirnya pasokan di pasar global bakal terjadi kembali.

"Sulit untuk mendapatkan faktor penekan harga lebih banyak setelah laporan ini setelah pasar menghilangkan nilainya lebih dari 30 persen selama dua bulan terakhir," ujar Wakil Kepala Bagian Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian di Stamford, Cinnecticut, AS.


Harga Brent telah merosot lebih dari 30 persen sejak menyentuh level tertingginya, di atas US$86 per barel, di awal Oktober 2018. Investor melepas asetnya akibat khawatir laju pertumbuhan ekonomi dunia bakal melambat pada 2019. Selain itu, harga minyak juga tertekan oleh keputusan AS memberikan pengecualian pemberlakuan sanksi ekspor Iran kepada beberapa negara importir minyak utama Iran.

Anjloknya harga minyak sejak Oktober 2018 seperti terjerembabnya harga minyak pada 2008 silam dan lebih tajam dibandingkan penurunan pada periode 2014-2015. Merosotnya harga minyak telah mendorong Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk memangkas produksinya.

Pasar tetap gelisah menanti keputusan OPEC dan sekutunya terkait kebijakan pemangkasan produksi. Keputusan tersebut akan diambil pada pertemuan pada 6 Desember 2018 mendatang di Wina, Austria. Delegasi OPEC mengatakan kepada Reuters produsen minyak utama dunia tengah membicarakan kemungkinan untuk memangkas produksi sebesar 1,4 juta bph, bahkan lebih. Arab Saudi telah menyatakan tidak akan memangkas produksinya sendiri.

Analis broker minyak PVM Stephen Brennock menilai hasil pertemuan OPEC pekan depan masih diliputi ketidakpastian. (sfr/rea)