Harga Minyak Dunia Anjlok 20 Persen Sepanjang November

CNN Indonesia | Senin, 03/12/2018 07:03 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok 20 Persen Sepanjang November Ilustrasi kilang minyak. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah sepanjang November 2018 anjlok lebih dari 20 persen. Pelemahan terparah selama lebih dari satu dekade itu dipicu oleh membanjirnya pasokan melampaui permintaan.

Dilansir dari Reuters, Senin (3/12), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup di level US$58,71 per barel pada Jumat (30/11) lalu. Secara harian, Brent melemah 1,3 persen atau US$0,8 per barel.

Pelemahan di penghujung bulan juga dialami oleh harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar 1 persen atau US$0,52 per barel menjadi US$50,93 per barel.


Di awal bulan harga Brent dan WTI masing-masing masih berada di level US$72,89 dan US$63,69 per barel.

Selain sentimen terhadap membanjirnya pasokan, pelemahan di akhir bulan lalu juga terjadi akibat menguatnya dolar AS. Namun, penurunan harga tertahan oleh ekspektasi terhadap Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia untuk sepakat memangkas produksinya pada pekan depan.


Harga minyak dunia tertekan oleh penguatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang negara lain. Penguatan dolar AS terjadi seiring harapan investor terhadap AS dan China yang akan mencapai kata sepakat terkait kebijakan perdagangan. Sebagai catatan, penguatan dolar AS akan membuat harga komodtas yang diperdagangkan dengan dolar AS menjadi relatif lebih mahal bagi konsumen yang memegang mata uang negara lain.

Di sisi lain, berdasarkan laporan Bloomberg yang dikutip Reuters, harga minyak masih mendapatkan topangan pada Jumat (30/11) lalu oleh pemberitan mengenai Komisi Penasehat OPEC yang menyarankan pemangkasan produksi sebesar 1,3 juta barel per hari (bph) dari produksi bulan lalu.

"Harga minyak dunia bangkit di penhujung Jumat akibat pemberitaan Komite OPEC telah menyarankan pemangkasan sebesar 1,3 juta bph dari level (produksi) Oktober 2018," ujar Analis Pasar Forex.com Fawad Razaqzada.

Menurut Razaqzada, tekanan terhadap harga minyak terus terjadi di tengah kekhawatiran terhadap berlebihnya pasokan dan rendahnya pertumbuhan permintaan. Jika tidak ada aksi yang dilakukan, harga minyak akan menurun lebh tajam.

Rencananya OPEC dan sekutunya akan bertemu pada 6 Desember 2018 mendatang di Wina, Austria. Sebelum pertemuan tersebut, tiga produsen minyak terbesar di dunia, Arab Saudi, AS, dan Rusia, telah bertemu secara terpisah pada pertemuan G20 pada akhir pekan lalu di Buenos Aires, Argentina.


Menteri Energi Rusia Alexander Novak telah menyatakan produksi minyak Rusia pada 2019 ditargetkan akan sama dengan level produksi tahun ini. Namun, hal itu masih bisa disesuaikan, bergantung pada kesepakatan OPEC dan sekutunya.

Melesatnya produksi di AS, Rusia, dan sejumlah anggota OPEC telah mengerek persediaan minyak mentah dan memicu kelebihan pason di sejumlah pasar.

Di AS, Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat produksi minyak mentah di Negeri Paman Sam naik sekitar 129 ribu bph pada September 2019 lalu menjadi 11,5 juta bph.

Persediaan minyak AS meningkat pesat di mana stok minyak mentah naik selama 10 pekan berturut-turut menjadi 450,5 juta barel, terbanyak tahun ini. Selain kenaikan produksi, Perlambatan permintaan minyak juga memicu kelebihan pasokan.


Analis PVM Oil Stephen Brennock menilai gangguan utama di pasar berasal dari kekhawatiran terhadap OPEC yang tidak akan melakukan kebijakan yang cukup untuk mengatasi masalah kelebihan pasokan.

Survey bulanan Reuters mengindasikan produksi 12 anggota OPEC yang menargetkan penurunan pasokan berdasarkan kebijakan sebelumnya pada November akan turun 110 ribu bph dari Oktober. Sementara, total produksi OPEC akan turun 160 ribu bph.

CME Group mencatat indikator ekspektasi pemangkasan pasokan melemah. Sentimen pasar bergeser dari 70 persen ekspektasi pemangkasan produksi di awal pekan lalu menjadi 56 persen di akhir pekan.

Lebih lanjut, spekulator harga Brent memangkas posisi beli bersih ke level terendah sejak 2015 pada pekan lalu. Intercontinental Exchange mencatat posisi beli bersih Brent merosot 14.057 kontrak menjadi 168.512 kontrak. (sfr/agi)


BACA JUGA