Trump Ancam China dengan Tarif Jika Gagal 'Damai'

CNN Indonesia | Rabu, 05/12/2018 07:56 WIB
Trump Ancam China dengan Tarif Jika Gagal 'Damai' Presiden AS Donald Trump. (REUTERS/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menahan kemungkinan memperpanjang gencatan perang dagang dengan China selama 90 hari. Ia kembali memperingatkan akan mengenakan tarif pada mayoritas barang China jika kedua pihak tak dapat menyelesaikan perdebatan.

Trump mengatakan tim penasihat perdagangannya dan Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer akan menentukan apakah 'kesepakatan nyata' dengan Beijing itu mungkin.

"Jika ya, kami akan menyelesaikannya. Tapi kalau tidak ingat, saya adalah pria tarif," tulis Trump di sebuah unduhan di Twitter.


Ancaman perang perdagangan yang meningkat antara dua ekonomi terbesar di dunia telah membayangi pasar keuangan dan ekonomi global selama hampir sepanjang tahun. 'Gencatan senjata' yang disepakati oleh Trump dan Presiden China Xi Jinping akhir pekan lalu sempat membuat investor lega.


Namun, setelah kenaikan pada hari Senin, pasar pada hari Selasa melakukan aksi jual sebagai keraguan atas apa yang secara realistis bisa dicapai dalam jendela negosiasi yang ketat antara kedua negara.

Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 3 persen, S&P 500 kehilangan 3,2 persen dan Nasdaq Composite jatuh 3,8 persen.

Trump muncul untuk mengatasi salah satu kekhawatiran dengan menunjukkan dia tidak akan menentang perpanjangan gencatan senjata 90 hari.

"Negosiasi dengan China sudah dimulai. Kecuali diperpanjang, mereka akan berakhir 90 hari dari tanggal makan malam kami yang luar biasa dan hangat dengan Presiden Xi di Argentina," tandas Trump.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan China menyatakan bakal mengupayakan tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat. 


Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengakui keraguan investor atas hasil pembicaraan. "Pasar sedang mencoba untuk mencari tahu, apakah akan ada kesepakatan nyata pada akhir 90 hari atau tidak?" Mnuchin mengatakan kepada Dewan CEO Wall Street Journal.

Namun, ia menyebut pertemuan di Buenos Aires menandai kemajuan signifikan. Ia pun menggambarkan negosiasi yang akan datang sebagai signifikan secara historis karena kedua pemimpin telah sepakat untuk menyelidiki beberapa isu spesifik.

Trump dan Xi sebelumnya mengatakan mereka akan menunda penerapan tarif tambahan selama 90 hari mulai 1 Desember ketika mereka berusaha menyelesaikan sengketa perdagangan. Trump telah mengatakan China seharusnya mulai membeli produk pertanian segera dan memotong tarif 40 persennya pada impor mobil AS.

Sementara Trump memuji perjanjian dengan Xi sebagai "kesepakatan luar biasa," kurangnya detail dari pihak China telah membuat investor dan analis bertanya-tanya apakah kegembiraan Trump realistis. 

"Rasanya tidak ada yang benar-benar disetujui pada jamuan makan malam dan pejabat Gedung Putih sedang mengubah diri menjadi pretzel untuk merekonsiliasi tweet-tweet Trump (yang tampaknya jika tidak sepenuhnya dibuat lalu terlalu dibesar-besarkan) dengan kenyataan," kata JPMorgan Chase dalam catatan perdagangan.


Washington juga mengharapkan China segera mengatasi masalah struktural termasuk pencurian kekayaan intelektual dan transfer teknologi paksa, kata pejabat AS.

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih John Bolton mengatakan pada acara Wall Street Journal pada hari Selasa bahwa pencurian kekayaan intelektual Amerika Serikat merupakan salah satu perhatian utama pemerintah.

Dia mengatakan Amerika Serikat harus mencari aturan yang akan melarang impor produk China yang menggunakan kekayaan intelektual AS yang dicuri.

Akibat pernyataan Trump, bursa saham Wall Street ambruk. Seluruh indeks utamanya melemah lebih dari tiga persen. Bila dirinci, Dow Jones terkoreksi 3,1 persen, S&P500 terkoreksi 3,24 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 3,8 persen. (Reuters/agi)