Natal dan Tahun Baru, 13 Maskapai Tambah 367 Penerbangan

CNN Indonesia | Kamis, 06/12/2018 00:36 WIB
Natal dan Tahun Baru, 13 Maskapai Tambah 367 Penerbangan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan sejumlah maskapai penerbangan akan menambah frekuensi penerbangan pada perayaan Natal dan Tahun Baru 2019 mendatang. Penambahan frekuensi penerbangan mencapai 367.

Penambahan dilakukan untuk rute domestik dan internasional. Sekretaris Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Nur Isnin, mengatakan dari jumlah tambahan tersebut, 335 frekuensi penambahan penerbangan dilakukan untuk rute domestik.

Sementara itu, 32 frekuensi penerbangan lainnya diberikan untuk penerbangan internasional.


"Total armada yang disiapkan untuk angkutan udara ada 544 pesawat dari 13 badan usaha angkutan udara," ujar Isnin, Rabu (5/12).


Isnin mengatakan dari 13 tersebut, Garuda Indonesia menjadi maskapai dengan penambahan penerbangan terbanyak, yakni 213 frekuensi dengan kapasitas tambahan total 32.130 dan 14 rute. Penambahan terbanyak kedua dilakukan oleh Sriwijaya Air dan Lion Air yang menambah frekuensi penerbangan sebanyak 30.

Maskapai ketiga, Citilink yang menambah penerbangan sebanyak 24 frekuensi. Keempat, Batik Air yang menambah frekuensi penerbangan sebanyak 20 frekuensi.h Maskapai lain yang menambah frekuensi penerbangan adalah Nam Air sebanyak 12, dan Air Asia sebanyak enam frekuensi.

Sementara itu, dua maskapai yang menambah penerbangan internasional, antara lain Air Asia sebanyak 18 frekuensi dan Malaysia Airlines sebanyak 14 frekuensi.

"Untuk penumpang tahun ini kurang lebih mencapai 6.537.119 penumpang, terdiri dari 5.682.791 penumpang angkutan dalam negeri dan 854.328 penumpang luar negeri," terang Isnin.


Prediksi jumlah penumpang itu naik 8,76 persen dibandingkan dengan realisasi penerbangan pada masa libur natal dan tahun baru 2017/2018 kemarin yang hanya 6.010.529.

Lebih lanjut, Isnin mengatakan agar otoritas bandara terus mengawasi kegiatan operasional penerbangan dan mengawasi kesiapan operator penerbangan yang beroperasi di wilayah kerja masing-masing, termasuk armada dan awak pesawatnya.

"Jam operasi juga disesuaikan untuk menjamin keselamatan, lalu juga diminta lebih diutamakan penggunaan pesawat besar karena bandara akan sibuk," pungkas Isnin.

(aud/agt)