BEI Cetak Rekor Penambahan Emiten Baru di Tahun Anjing Tanah

CNN Indonesia | Jumat, 07/12/2018 09:13 WIB
BEI Cetak Rekor Penambahan Emiten Baru di Tahun Anjing Tanah Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya mencatatkan rekor terbarunya dalam hal penambahan jumlah emiten baru sepanjang tahun ini. Untuk pertama kalinya sejak 2010 jumlah perusahaan yang melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) berhasil mencapai 53 perusahaan.

Padahal, waktu tutup tahun masih sisa sebulan lagi. Penambahan emiten baru tersebut patut diacungi jempol. Maklum, jumlah penambahan emiten baru beberapa tahun terakhir terbilang melempem dan di bawah target BEI yang rata-rata per tahunnya 35 emiten.

Bila dihitung, jumlah perusahaan yang melantai di BEI pada 2010-2012 terbilang konsisten sekitar 20. Kemudian, pada 2013 jumlahnya naik dan tembus 31 emiten baru.


Tapi kenaikan tersebut tak bertahan lama. Pada 2014, jumlah penambahan emiten baru hanya 24. Setelah itu,
 jumlahnya terus turun pada 2015 sampai di bawah 20 emiten.


Beruntung, ketertarikan pelaku usaha untuk mencari peruntungan di pasar dengan melepas sahamnya ke publik pada tahun lalu kembali menggeliat. Pada 2017 tercatat terdapat 37 emiten baru yang melantai di bursa.

Melihat lebih detil emiten baru tahun ini, mayoritas manajemen memutuskan untuk menghimpun dana (fund raising) di bawah Rp1 triliun. PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKN) misalnya, perusahaan hanya meraup dana segar sebesar Rp41,6 miliar dari IPO. Kemudian, himpunan dana pemilik lisensi Pizza Hut, PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) juga hanya menghimpun Rp664,81 miliar.

Dari 53 emiten, hanya dua emiten yang mencari pendanaan hingga Rp1 triliun melalui IPO. Keduanya adalah PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) sebesar Rp1,33 triliun dan PT Medialoka Hermina Tbk (HEAL) sebesar Rp1,3 triliun.

Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido mengatakan pesatnya penambahan jumlah emiten baru tak terlepas dari kondisi makro ekonomi dalam negeri yang dinilai lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa indikator tersebut salah satunya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran.
BEI Cetak Rekor Penambahan Emiten Baru di (Tunggu insert)(CNN Indonesia/Timothy Loen)

"Korelasinya juga sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), karena indeks itu kan cerminan dari kondisi makro ekonomi Indonesia," ucap Kevin kepada CNNIndonesia.com, Kamis (6/12).

Sementara itu, mengutip Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi kuartal III 2018 sebesar 5,17 persen secara tahunan. Pencapaian itu lebih rendah dari kuartal II 2018 yang sebesar 5,27 persen. Hanya saja, masih lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal III 2017 yang hanya 5,06 persen.

Sementara, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Agustus 2018 menurun menjadi 5,34 persen dari periode yang sama tahun lalu yang masih sebanyak 5,5 persen. Sejalan dengan itu, jumlah pengangguran terbuka Indonesia juga menurun menjadi tujuh juta orang, turun dari tahun lalu yang 7,04 juta orang.

Penurunan tingkat pengangguran terjadi di tengah kenaikan angkatan kerja dari 128,06 juta orang menjadi 131,01 juta orang per Agustus kemarin. Artinya, penyerapan tenaga kerja berbanding lurus dengan penambahan jumlah tenaga kerja.


"Kalau tenaga kerja terserap, berarti perusahaan ada ekspansi. Ekspansi kan butuh dana, nah dana itu salah satunya dari pasar modal ini," sambung Kevin.

Selain itu, faktor global turut mendorong ketertarikan pelaku usaha untuk mencari pendanaan di pasar modal. Salah satunya adalah kenaikan harga sejumlah komoditas, khususnya batu bara.

Merujuk data Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM), harga acuan batu bara (HBA) per November 2018 berada di level US$97,9 per ton. Angka itu sebenarnya turun dari bulan sebelumnya sebesar US$100,89 per ton. Namun, bisa dibilang lebih baik dari posisi 2016 lalu yang masih sekitar US$50-US$70 per ton.

"Paling utama memang harga batu bara, tapi juga dibarengi dengan permintaan dari China karena kan paling banyak ekspor ke China," kata Kevin.

Ketika ekonomi suatu negara dipandang cukup positif, lanjut Kevin, otomatis IHSG juga cenderung bergerak di zona hijau. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar makin bernafsu untuk menanamkan dananya di pasar saham.
BEI Cetak Rekor Penambahan Emiten Baru di Tahun Anjing Tanah(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Begitu juga sebaliknya, jika ekonomi sebuah negara mandeg, pelaku pasar yang akan berinvestasi di saham di bursa efek negara tersebut juga akan seret. Makanya, pelaku usaha juga tak sembarangan dalam memutuskan untuk IPO.

"Misalnya emiten A melepas sahamnya beberapa tahun lalu, kan belum tentu juga ada yang beli. Perusahaan lihat-lihat juga apa saham yang dilepas bakal diserap pasar atau tidak," ujar Kevin.

Sementara itu, Analis Oso Sekuritas Ike Widiawati mengatakan kenaikan jumlah tamu baru di BEI juga didorong oleh kebutuhan perusahaan dalam mencari pendanaan tanpa dibebani bunga utang layaknya di perbankan. Pendanaan itu biasanya digunakan untuk ekspansi atau pembayaran utang perusahaan.

"Dan dari tahun ke tahun tentunya industri semakin melek dengan pasar modal dan menyadari manfaat IPO dibandingkan jika dulu hanya mengandalkan utang perbankan," tutur Ike.


Namun, mayoritas perusahaan yang melakukan IPO tahun ini bukanlah perusahaan dengan aset jumbo. Dengan begitu, Ike menyebut wajar jika jumlah penghimpunan dana kebanyakan emiten ini tak sampai triliunan.

"Perusahaan yang mayoritas IPO tahun ini rata-rata perusahaan yang sedang tumbuh atau belum matang, jadi wajar jika emisinya masih cenderung tidak terlalu besar," ucap Ike.

Kendati jumlah himpunan dananya tak besar, saham emiten baru kebanyakan langsung melejit saat hari pertama perdagangan sahamnya di BEI. Bahkan, tak jarang BEI terpaksa melakukan auto rejection atas terhadap saham emiten karena kenaikannya melewati batas.

Beberapa saham yang melesat pada hari pertama perdagangannya, misalnya PT Jaya Trishindo Tbk (HELI) yang naik 70 persen menjadi Rp187 per saham, PT Sky Energi Indonesia Tbk (JSKY) naik 87,5 persen ke level Rp750 per saham, dan PT Pool Advista Finance Tbk (POLA) naik 68,89 persen ke level Rp228 per saham.


"Menjadi salah satu pemanis bagi saham IPO untuk diburu dan tentunya dengan harapan setelah IPO emiten akan dapat mencatat perbaikan fundamental," terang Ike.

Sayangnya, tak semua saham bertahan di zona hijau. Jaya Trishindo dan Sky Energi Indonesia pada penutupan Kamis sore ini terkoreksi masing-masing 4,1 persen ke level Rp117 per saham dan 1,17 persen ke level Rp845 per saham. Sementara, Pool Advista Finance lebih unggul karena berhasil melonjak 16,6 persen ke level Rp1.510 per saham.

"Memang beberapa saham yang IPO tercatat merah. Menurut hemat saya ini lebih dikarenakan tekanan dalam sektor saham tersebut atau penggunaan dana IPO yang dirasa kurang mampu mendorong prospek keuangannya," papar Ike.

Ia menambahkan volume perdagangan saham emiten yang baru saja IPO terbilang cukup tinggi dalam jangka waktu lima sampai delapan bulan. Setelah itu, transaksi beli pada saham itu akan sesuai dengan kondisi pasar atau industrinya masing-masing.

(aud/agt)