Rupiah Loyo Lagi Terimbas Anjloknya Bursa Saham Global

CNN Indonesia | Selasa, 11/12/2018 17:11 WIB
Rupiah Loyo Lagi Terimbas Anjloknya Bursa Saham Global Nilai tukar rupiah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.607 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot sore ini, Selasa (11/12). Posisi ini melemah 54 poin atau 0,37 persen dari kemarin sore, Senin (10/12) di Rp14.515 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.613 per dolar AS atau melemah dari kemarin di posisi Rp14.517 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama mayoritas mata uang lainnya, seperti rupee India sebesar 0,68 persen, ringgit Malaysia 0,31 persen, won Korea Selatan 0,28 persen, dan peso Filipina 0,01 persen.


Sementara dolar Hong Kong stagnan. Sedangkan dolar Singapura menguat 0,09 persen, renminbi China naik 0,13 persen, yen Jepang menguat 0,25 persen, dan baht Thailand menguat 0,29 persen.

Sebaliknya, mayoritas mata uang utama negara maju justru menguat dari dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,5 persen, franc Swiss 0,36 persen, rubel Rusia 0,35 persen, euro Eropa 0,24 persen, dan dolar Australia 0,17 persen. Hanya dolar Kanada yang melemah 0,11 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan rupiah kembali melemah karena ada sentimen negatif berupa kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia yang kembali muncul. Sentimen ini muncul lagi karena bursa saham global kembali anjlok.


Selain itu, kekhawatiran muncul lagi lantaran hubungan perdagangan antara AS dan China belum juga menemukan titik terang. Tak ketinggalan, imbal hasil (yield) surat utang AS, US Treasury Bond juga kembali melemah.

"Sebenarnya kekhawatiran terhadap ekonomi global bisa menjadi sentimen negatif untuk dolar AS, tapi juga sekaligus melemahkan rupiah," ujar Dini kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/12).

Di sisi lain, ada sentimen pengambilan suara parlemen Inggris terkait proposal keluarnya pemerintahan dari zona Eropa (Britania Exit/Brexit). "Hal ini membuat pasar wait and see," pungkasnya.


(uli/agi)