REKOMENDASI SAHAM

Magnet Saham Perbankan Jelang Pengumuman Suku Bunga Acuan

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 17/12/2018 10:18 WIB
Magnet Saham Perbankan Jelang Pengumuman Suku Bunga Acuan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sikap Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini yang tak mengerek suku bunga acuan akan menjadi magnet kuat bagi pelaku pasar untuk mencermati saham emiten perbankan.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan prediksi itu dilatarbelakangi oleh sinyal bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang menyebut tren kenaikan suku bunga atau normalisasi sudah hampir mencapai puncaknya. Dengan demikian, kenaikan suku bunga acuan The Fed pada 2019 berpotensi tak seagresif tahun ini.

"Pada Desemeber ini saya yakin The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan, namun BI kan sudah menaikkan suku bunga acuan lebih dulu bulan lalu," ungkap Nafan kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/12).



Keputusan BI mengerek suku bunga acuan pada November lalu dinilai sebagai sikap antisipasi terhadap peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed bulan ini. Hal itu dilakukan demi menjaga nilai tukar rupiah tetap bergerak stabil terhadap dolar AS.

"Intervensi untuk menjaga rupiah selain terkait suku bunga, BI juga intervensi di pasar forex dan ikut menyerap surat utang negara," tutur Nafan.

Diketahui, pada bulan lalu BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen dari sebelumnya 5,75 persen. Sementara itu, suku bunga The Fed saat ini di level 2 persen sampai 2,5 persen.


Melihat momentum tadi, Nafan menyarankan pelaku pasar untuk mengambil posisi beli pada saham bank Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 4 seperti, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

"Trennya untuk saham emiten bank BUKU 4 masih positif," terang Nafan.

Hampir seluruh emiten itu memang bergerak di zona hijau pada Jumat (14/12) kemarin. Berdasarkan catatan CNNIndonesia.com, saham BCA berakhir di level Rp25.825 per saham, saham BNI di level Rp8.600 per saham, dan saham BRI di level Rp3.680 per saham. Namun, saham Bank Mandiri terkoreksi sebesar 1,62 persen ke level Rp7.575 per saham.


Terlebih, sambung Nafan, masing-masing perusahaan masih membukukan kinerja positif sampai kuartal III 2018. Hal itu terlihat baik dari laba bersih sampai rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

Bila dirinci, laba bersih BCA sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini sebesar Rp18,5 triliun atau naik 9,9 persen, sementara keuntungan BNI meningkat 12,6 persen menjadi Rp11,44 triliun.

Selanjutnya, BRI mencetak laba bersih sebesar Rp23,5 triliun dengan kenaikan 14,6 persen dan laba bersih Bank Mandiri tumbuh 20 persen menjadi Rp18,1 triliun.

Magnet Saham Perbankan Jelang Pengumuman Suku Bunga AcuanIlustrasi aktivitas perbankan. (Adhi Wicaksono)

Dari sisi rasio kredit macet, BCA mengalami penurunan non-performing loan (NPL) gross menjadi 1,4 persen, BNI turun menjadi 2 persen, dan Bank Mandiri turun menjadi 3,01 persen. Sementara itu, NPL gross BRI meningkat menjadi 2,5 persen dari posisi sebelumnya.

Dari segi teknikal, Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang juga memasukkan saham BCA dan BRI dalam daftar rekomendasi saham pekan ini. Menurutnya, kedua saham itu secara valuasi masih murah.

Mengutip RTI Infokom, price earning to ratio (PER) saham BCA pada akhir pekan lalu sebesar 25,8 kali dan BNI sebesar 14,49 kali. Rasio tersebut biasanya diamati oleh investor untuk mengetahui harga saham berada pada kisaran yang wajar atau tidak.

Di sisi lain, Kepala Riset Narada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe menjelaskan penguatan saham perbankan juga akan didorong oleh aksi window dressing. Aksi itu bisa diartikan sebagai upaya perusahaan manajer investasi dalam memborong sebagian saham untuk mempercantik portofolio perusahaan manajer investasi tersebut pada akhir tahun.


"Khususnya saham berkapitalisasi besar (big capitalization) untuk bank misalnya BNI," kata Kiswoyo.

Ia menyebut aksi window dressing memang selalu terjadi pada akhir tahun, sehingga harga saham big cap ikut terdongkrak setiap Desember. Efeknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga selalu positif jelang tutup tahun.

"Ini selalu terjadi dalam 17 tahun terakhir," pungkas Kiswoyo. (lav)